09 September 2008
Masa Depan Dunia Igo
Entah mengapa juga saya merasa masa depan dunia igo akan sangat cerah. Terutama juga di Indonesia.
Dan penyebabnya adalah, igo yang awalnya dimainkan secara individu (satu lawan satu), kini mulai ramai dimainkan secara beregu. Meski saat ini yang umum baru dua lawan dua, di mana satu regu terdiri atas cowok dan cewek. Namun, bukan tidak mungkin di kemudian hari igo akan dimainkan 3 lawan 3, 4 lawan 4, atau bahkan 5 lawan 5. Igo memang bisa saja sepopuler DOTA karenanya. Atau bahkan bisa lebih populer dari olahraga beregu seperti basket atau sepak bola :D
I hope so....
Pikir-pikir lagi, kaitannya dengan upaya mempromosikan permainan ini di Indonesia. Pair go bisa jadi salah satu senjata bagus untuk mempopulerkan permainan igo. Sebab, mungkin igo yang biasanya kurang diminati banyak orang karena terlalu individualis. Tapi pair go? Mereka akan merasakan nikmatnya bermain igo sambil berusaha mempersatukan kedua pemikiran demi satu tujuan.
Mempersatukan dua pemikiran demi satu tujuan. Itulah seninya. Dan salah satu alasan kenapa pair go menurut saya lebih enak adalah sebuah slogan umum yakni "Pair Go, kalau kalah sedihnya setengah, menang puasnya dobel".
Nah bagaimana menurut anda? Kenapa kita tidak mencobanya sekarang? Saya percaya pairgo tidak kalah asyik dengan igo yang biasanya. Let's Together! Let's Go!
Supercomputer with innovative software beats Go Professional
The Rules of PairGo
1. The game is played between male-female pairs. The two players in each pair are called partners.
2. Seating: The two partners sit beside each other, facing an opposing pair across the Go board.
3. Order of moves: The pairs play in the following order: ... -- Black female player -- White female player -- Black male player-- White male player -- ... This cycle is called the normal rotation. The players must always play in the normal rotation. The player who makes the first move of the game is as follows: In non-handicap games, the Black female player makes the first move. In games with a handicap of two stones or more, the White female player makes the first move.
4. Prohibition of exchanging information: During the game, partners must not communicate, give advice, or exchange other information by speech, gestures, mannerisms, or any other means except playing moves. Speaking is permitted, however, to confirm whose turn it is to play, or confer about resigning. Conferring about resigning is limited to the following: the player to move may ask for his or her partner's consent to resign; the partner may agree or not agree to resign.
5. Resignation: Resignation is announced by the player whose turn it is to move. The player's partner cannot retract the resignation.
6. Violations: Rotation error: If the wrong partner plays, causing a departure from normal rotation, this is called a rotation error. Rotation errors are handled as follows:
(1) A rotation error can be claimed only when the move just played was out of rotation.
(2) If the claimed rotation error was intentional, the game is forfeited immediately.
(3) If the claimed rotation error was unintentional, the next step is to verify which partner played
the preceding move.
(4) If the preceding move was played in normal rotation, the game continues with a three-point
penalty for the claimed rotation error. |
(5) If the preceding move was not played in normal rotation, the game continues without any
penalty for the claimed rotation error.
(6) In either case, no moves are taken back and replayed. The last move played is regarded as
having been played by the correct player. The next move must be played in normal rotation
with the last move played.
(7) Whenever a rotation error is detected, the next player must return to normal rotation. Failure to do so is regarded as a new rotation error.
Example of rotation error and return to normal rotation: Black male player Normal rotation - White male player Normal rotation - Black female player Normal rotation - White female player Normal rotation - Black female player Rotation error. The error is claimed and a three point penalty is applied. White female player Return to normal rotation (the White female player normally plays after the Black female player). If the White male player played at this point, that would be a new rotation error. Black male player Normal rotation - White male player Normal rotation - Black female player Normal rotation - White female player Normal rotation
Special case of rotation error: If the same side plays two moves in a row, then the rotation error is removed from the board, the three point penalty assessed, and the game continues as above.
Illegal exchange of information: If illegal exchange of information between partners is observed to take place, the offending partners forfeit the game.
7. Other matters:
(1) The game stops when there are two consecutive passes.
(2) The word "agreement" means agreement of all four players.
(3) Pair Go Handicap Rules:
A. Handicap setting: Handicaps are set by the following point system: 7-dan=7; 6-dan=6; 5-dan=5; 4-dan=4; 3-dan=3; 2-dan=2; shodan=1; 1-kyu=0; 2-kyu=-1; 3-kyu=-2; 4-kyu=-3; 5-kyu=-4; 6-kyu=-5, etc. The handicap points of a pair are the total of the two partners' handicap points divided by two, with fractions rounded up.
B. Handicaps: The handicap in a game is determined from the difference in handicap points between the pairs. Jigo is won by White.
C. Pair Go Manners (1) Pair Go, like contract bridge, is an intellectual contest between ladies and gentlemen. Please avoid unmannerly speech, conduct, attitudes, or dress. (2) Be careful to avoid behavior or gestures that might give or seem to give your partner a hint concerning the next move. (3) Please refrain from trying to win on time when you have a lost game. (4) Smoking is not permitted during play at official Pair Go tournaments. (5) Partners must not leave their seats at the same time during a game at official Pair Go tournaments.
Samsung Cup
08 September 2008
My Baduk First Introduction
Saya ingin bercerita sedikit tentang bagaimana pertama kali saya berkenalan dengan permainan ini. Suatu sore di bulan-bulan akhir tahun 2003 (lupa tepatnya....yang jelas di bulan-bulan ketika Hikaru no Go tayang pertama kali di TV 7), saya menyelesaikan kegiatan mandi saya lebih awal dari biasanya. Sekitar pukul 17.45 WIB. Soalnya saya sudah tidak sabar menanti anime pengganti Whistle yang saya tau bahwa anime tersebut sudah habis sehari sebelumnya.
Dan ternyata penggantinya adalah Hikaru no Go. Sebuah anime yang sejujurnya benar-benar asing di telinga saya waktu itu. Di awal-awal menonton anime tersebut, saya agak malas, karena saya ndak ngerti sama sekali anime itu tentang apa dan saya rasa tema yang dibawakan nggak menarik sama sekali. Karena saya suka dengan anime-anime yang ada fightingnya kayak Dragon Ball atau Yu Yu Hakusho (yang waktu itu tayang selepas Hikaru no Go), maka anime Hikaru no Go jelas sama sekali tidak menarik minat saya.
Tapi, berkat keteguhan saya ingin melihat tentang apa sich anime itu, dan kesuksesan para creatornya dalam menyajikan igo menjadi sebuah kemasan yang sangat-sangat menarik, serta sedikit keberhasilan seiyuu nya dalam men-dubbing ke dalam bahasa Indonesia, akhirnya saya tertarik juga mempelajari permainan ini.
Bak gayung bersambut, teman saya yang tau bahwa saya ingin tau dan belajar banyak tentang igo membawakan saya buku panduan igo (klo ndak salah namanya Igo Weichi) dan software Wulu waktu itu. Dia meminta saya untuk mempelajarinya agar saya bisa mengajarinya (Itulah kelicikan Nathan, teman saya itu >_>)
Sekitar tahun 2005, saya dikenalkan dengan KGS (server igo paling populer) lewat usaha saya men-search server tempat main igo online. Dan akhirnya saya belajar terus menerus, sembari mempelajari kifu (game records). Dan sampai sekarang, saya dipercaya menjadi ketua Java Go Club di kota tempat saya tinggal dan kuliah, Semarang.
Itulah sedikit cerita tentang saya dan baduk atau igo, yaitu tentang bagaimana saya mulai mengenal permainan ini pada awalnya.
04 September 2008
Resep Anti Minder
Di saat yang sama, saya pernah berlatih karaoke. Bukan karena hiburan, tapi saya menciptakan "motivasi dadakan" berdasar "impian dadakan" yang tiba-tiba ingin menjadi penyanyi. Meski saya sudah berpuluh=puluh kali berlatih bernyanyi, tetap saja suara saya fales. Nadanya ndak jelas dan tidak layak nyanyi. Itu semua terjadi karena saya seperti terkena "cinta monyet" dengan dunia tarik suara.
Mungkin kedua hal di atas pernah juga anda alami. Cinta monyet terhadap suatu bidang tertentu, yang jelas-jelas tidak anda kuasai; namun anda paksakan untuk anda kuasai karena anda melihat hasilnya saja tanpa memperhatikan (apalagi) menikmati prosesnya.
Saya percaya satu hal, bahwa di dunia ini tidak ada satu orangpun yang ditakdirkan untuk menguasai semua bidang yang ada di dunia ini. Justru jika orang itu menguasai semua bidang, maka pastinya tingkat penguasaannya akan sangat kecil jika dibandingkan dengan orang yg berspesialisasi di bidang tertentu. Alhasil maka tiap-tiap manusia memiliki kombinasi skill di bidang-bidang tertentu. Saya minder karena saya tidak kuasai musik dan menyanyi, yang jelas-jelas saya yakin saya tidak ditakdirkan untuk menguasai itu. Walau seharusnya saya tidak perlu minder, karena saya memiliki bidang yang pastinya tidak dikuasai oleh orang yang saya minderi itu.
Saya sangat tertarik dengan igo (silahkan lihad penjelasan apa itu go di http://senseis.xmp.net)
Tidak hanya saya, ada beberapa teman juga yang punya hobi dan minat yang sama. Ada yang masih pemula, tapi ada yang skillnya sudah lebih jauh di atas saya. Pernah saya merasa tidak berharga (minder) jika dibandingkan dengan orang-orang yang lebih hebat ini. Tapi saya sadari, bahwa nilai kami sama. Apa sebabnya? Karena sebagai peminat igo, kami memiliki skill dan minat serta hobi lain yang pastinya berbeda. Inilah apa yang akan saya sebut sebagai kombinasi skill. Tidak ada satu oarngpun yang mempunyai kombinasi skill yang sama. bahkan anak kembar saja terkadang punya hobi, minat, dan keterampilan (baca : skill) yang berbeda-beda. Jika anda membutuhkan sebuah kecongkakan demi membuat agar anda tidak merasa minder jika dibandingkan terhadap orang lain, maka anda bisa mempergunakan contoh statement seperti ini :
"Saya dan A memiliki hobi yang sama yaitu menyanyi. Tapi suara A lebih bagus jauh dari saya. Tapi saya jauh lebih pintar main gitar dari si A. Jadi saya tidak perlu minder dengannya."
Kalimat di atas adalah contoh kalimat yang diucapkan oleh seorang pria yang suaranya pas-pasan tapi suka menyanyi dan main gitar, terhadap teman wanitanya yang hobinya menyanyi (dengan suara yang lebih merdu dari si pria) dan menari. Si A (si wanita) bisa saja berucap, meski saya tidak bisa main gitar , tapi saya bisa menari. Jika dilihat dari kedua hal tersebut, siapa yang lebih hebat? Si wanita atau si pria? Mungkin anda akan menjawab si wanita, karena di bidang menyanyi dia "plus" terhadap si pria, dan di bidang menari dia "plus plus" terhadap si pria, meski soal main gitar dia "minus-minus" terhadap si pria.
Tapi :
1. secara logis, pasti masih ada banyak bidang lagi yang dikuasai si pria tapi tidak dikuasai oleh si wanita
2. jika dilihat dari nilai manfaat terhadap sesama, maka keduanya seimbang. Karena si pria bisa menjadi guru gitar bagi si wanita, dan si wanita bisa menjadi guru menari bagi si pria. Meskipun si wanita bisa juga menjadi sedikit guru menyanyi bagi si pria, tapi (setidaknya bagi saya) tidak membuat si wanita lebih baik dari si pria. Mereka sama baiknya, karena keduanya punya unique skill yang bisa mereka saling bagi tanpa mempedulikan banyaknya skill yang bisa mereka bagi.
Lalu bagaimana dengan anda? Pernahkah anda merasa minder dengan orang lain yang punya hobi sama dengan anda, dengan kemampuan yang lebih baik dari anda?
Jika anda pernah merasa seperti itu, maka anda pastinya belum menemukan kombinasi skill yang sudah ditakdirkan untuk anda miliki. Jika anda sadari bahwa setiap manusia mempunyai kombinasi-nya sendiri maka anda tidak perlu merasa minder lagi. Karena pasti ada hal-hal yang dia tidak bisa melakukannya lebih baik dari anda. Lalu apa yang harus anda temukan?
Ada dua hal berkaitan dengan ini, yakni nature dan interest. Nature bahasa kesehariannya lebih sering dikenal dengan nama "bakat". Sementara interest bahasa gampangnya adalah "hobi" atau "minat". Apa bedanya?
Nature menentukan seberapa cepat anda bisa menguasai suatu bidang, ketika anda belajar dari nol.
Sedangkan interest menentukan ketahanan anda, energy anda, stamina anda, yang berujung pada tahan-tidaknya anda, kuat-tidaknya anda ketika menjalani proses untuk menguasai skill tersebut.
Biasanya orang yang menyadari dia punya nature terhadap suatu bidang maka dia akan punya interest terhadap bidang itu. Tapi tanpa nature pun, seseorang bisa menguasai suatu bidang lewat interest. Bagaimana cara interest membawa anda menguasai bidang tersebut? Seperti yang dikatakan oleh Gai Sensei dalam Anime Naruto.....kerja keras!
Mudah-mudahan setelah anda membaca tulisan saya ini, anda bisa langsung menemukan kombinasi skill yang ditakdirkan untuk anda miliki. Dan setelah ini anda jadi tidak minder lagi terhadap orang lain yang lebih hebat adri anda di suatu bidang.
Untuk memulainya coba cari dulu apa interest anda. Selamat mencoba motivasi ini.
Jalan Kaki (bagian pertama)
Hari semakin gelap. Matahari telah kembali ke peraduannya. Pandanganku mulai meredup. Kulihat di sekelilingku, lalu lintas tetap ramai. Sorot lampu mobil dan motor berlari-lari ke sana kemari. Tak ada satu orangpun pejalan kaki di sekelilingku. Tapi itu tidak membuatku merasa kesepian. Senandung penyanyi pop terkenal kulantunkan dengan mantap. Aku merasa capek tapi bahagia. Aku berhasil menyelesaikan tantangan yang kubuat sendiri. Sesekali kulambaikan tangan ku ke kiri dan ke kanan. Bak seorang penyanyi konser yang sedang beraksi di atas panggung. Beberapa kendaraan yang melintasiku berhenti karena lampu merah. Kepala mereka melongok ke luar jendela. "Kau tidak akan bisa merasakan kebahagiaan yang kurasakan saat ini!", teriakku dalam hati. Mereka tersenyum-senyum sendiri. Pasti mereka pikir aku sudah gila. Di tengah serba ketidakpastian yang melanda negara ini, bagaimana mungkin bisa ada orang yang segembira itu. Pasti itulah yang ada di benak mereka. Tidak! Merekalah yang berpotensi gila! Sebab mereka selalu membawa persoalan hidup mereka setiap harinya. Kalo aku? Selalu berusaha kulepaskan di malam harinya. Entah dengan bernyanyi atau dengan menulis. Yang jelas nggak pernah dengan cerita ke orang lain. Memang aku punya siapa? Orang tua? Mereka terlalu sibuk bekerja! Teman? Mereka hanya ada di saat aku senang! Satu-satunya orang yang bisa kupercaya hanyalah diriku sendiri. Dan tentu saja sebuah kotak berlayar, tempatku mencurahkan semua isi hatiku lewat tulisan.
Kulihat jam tanganku. Sudah menunjukkan pukul 18.45. Kakiku mulai nggak bisa diajak kompromi. Padahal sudah separuh jalan. Nggak! Nggak boleh aku nyerah begitu aja! Perempatan momok sudah kulewati. Tinggal jalan lurus aja untuk menuju ke rumahku. Aku nggak boleh naik kendaraan umum. Apalagi sampe nelpon pak supir minta jemput. Tapi kalo cuma berhenti sebentar kan boleh aja. Lagian aku haus. Aku nggak mau pingsan di jalan karena kehausan. Kulihat dari kejauhan, ada sorot lampu petromak. Ah! Bagus! Ada warung! Aku berjalan beberapa langkah menuju sorot lampu. Berhenti di depan warung, dan minta teh botol, minuman favoritku. Ahh....lega banget. Setelah bayar minuman, aku kembali melanjutkan perjalanan. Dan sepuluh menit kemudian aku sampai di rumah. Bibi membukakan pintu pagar. "Tadi naik angkot, non?", tanya bibi. "Nggak bik! Aku jalan kaki dari sekolah tadi.". Bibi keheranan. Aku langsung nyelonong masuk, sambil ninggalin bibi yang masih melongo takjub sekaligus nggak percaya. Ruang keluarga masih kosong. Berarti papi mami belum pulang. Kalau sudah pulang biasanya papi mami duduk santai di sofa ruang keluarga, sambil baca koran yang nggak sempat dibaca pagi hari. "Non Silvi, makan malem udah bibi siapin di meja.", teriak bibi dari dapur. Aku nggak memperdulikan si bibi ngomong apa. Langsung aja aku naik ke atas, menuju kamarku. Di kamar, aku tiduran sebentar. Nggak sampai 20 menit, aku kebangun. Badan capek. Kaki pegel. Langsung kuseret handuk di jemuran dan bergegas ke kamar mandi. Di kamar mandi, aku melanjutkan euforiaku. Sambil lagi-lagi bergaya bak Mai Kuraki, penyanyi idolaku, yang sedang konser.
Selesai mandi, aku ke ruang makan sebentar. Ngintip ada apa di balik tutupan meja makan. Ada ayam goreng, sayur asem, sama sambal. Bah! Lagi-lagi bibik masaknya ndak mutu, pikirku. Tapi daripada kelaparan, aku nurut aja. Habis makan aku bergegas kembali ke kamar. Pas menuju kamar, aku dengar suara papi sama mami di bawah, baru pulang. Ah! Aku males turun! Lagian aku masih kesel gara-gara aku nggak dijemput tadi pulang sekolah. Perjalanan ke kamar berlanjut. Di kamar, aku nelpon Mitha, teman sebangkuku. Kita ngoborol-ngobrol di telpon cukup lama. Di telpon aku menceritakan bagaimana aku berhasil menyelesaikan tantanganku yang kubuat sendiri, jalan kaki dari sekolah sampai ke rumah. Mitha takjub sekaligus nggak percaya. Dia ngasih applause buat aku. Aku jadi geer sendiri. Terus aku bilang ke dia, besok pagi aku mau coba jalan dari rumah sampai ke sekolah. Supaya tantanganku sempurna jadinya. Mitha sempat ngelarang. Katanya dia takut satu kelas jadi bau keringatku. Nggak mungkin, kataku. Aku nanti bakalan bawa deodoran sama parfum buat nutupin bau keringat. Mitha akhirnya nyerah juga. Dia tau kalau aku orangnya keras kepala. Kuakhiri pembicaraanku dengan sahabatku di telpon dengan ucapan selamat malam. Lalu kututup telponnya perlahan-lahan.
Jam di HP baru menunjukkan pukul 4.30 pagi, tapi alarm sudah berbunyi. Sengaja kupasang dengan suara yang agak lembut, supaya nggak membangunkan yang lain. Suara alarmku, lagunya Mai Kuraki yang Secret of My Heart versi piano. Sengaja kurekam sebulan lalu, dan kusetel jadi alarm. Cuma dengan cara ini aku bisa kebangun.
Sambil mengendap-ngendap aku mengambil handuk di jemuran, terus mandi. Aku mandi sambil lagi-lagi menirukan gaya Kuraki Mai yang lagi konser. Selesai mandi, aku cepat-cepat berpakaian. Kutengok jam dinding. Masih jam 5.15. Aku ke meja makan, dan melihat sarapan sudah siap di atas meja. Aku memang sengaja bilang ke bibi tentang rencanaku mau berangkat sekolah jalan kaki pagi ini. Aku juga sudah pesan ke bibi supaya bilang ke papi mami kalau aku berangkat pagi bareng Mitha karena ada jadwal piket. Sekarang sudah jam 5.25. Berarti aku masih punya waktu 35 menit lagi sebelum pelajaran tambahan dimulai, tepat jam 06.00 pagi.
Aku keluar rumah secara perlahan-lahan. Bibi membuntutiku dari belakang. Dia ikut membantu membukakan pagar. Kalau dua orang yang buka suaranya bisa lebih pelan. Apalagi tadi malem aku sudah suruh bibi untuk memberi minyak supaya pagarnya nggak seret waktu dibuka. Kalau seret bisa menimbulkan suara yang keras dan nggak enak. Kalao sudah begitu, rencanaku bisa ketahuan.
Rencana awal berjalan mulus. Aku sudah di luar pagar. Segera kusongsong jalan setapak menuju ke depan komplek. Kusapa pak satpam penjaga komplek, sambil mengingatkan perjanjian kami tadi malam. Selain bibi, pak Satpam juga sudah kusogok. Supaya kalo mami papi nanya tentang aku, bilang aku tadi pagi berangkat sama Mitha.
Aku sudah sekitar 10 langkah menjauhi gerbang komplek. Sambil jalan, kuhirup udara pagi yang segar. Hmm….kalau nggak jalan kaki nggak mungkin bisa merasakan yang kaya begini, pikirku. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 5.35 pagi. Gawat!! Tinggal 25 menit lagi. Kupercepat langkah kakiku. Sebentar, kembali kukurangi jangkauan langkah kakiku. Sambil mengatur nafas, sambil bersenandung dalam hati. Kali ini lagunya Kuraki Mai yang Stay by My Side. Lagu itu kusenandungkan seperti doa. Supaya Tuhan keep stay by my side. Tentu saja syairnya sedikit kurubah.
Dua menit lamanya aku berjalan agak santai. Setelah itu kembali kupercepat ayunan langkah kakiku. Jangkauannya pun kutambah. Dengan begini aku bisa sampai tepat waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 5.45. Perempatannya saja belum terlihat. Begini caranya aku bisa terlambat nich. Langkah kakiku semakin kupercepat. Kini aku sedang dalam tahap tiga per empat lari. Akhirnya sampai juga di perempatan. Masih ada 10 menit. Perempatan masih sepi. Langsung saja kuseberangi....
(To be Continued)Narasi Menyedihkan Slippe
Ketika kita sudah beranjak agak dewasa, maka mulai muncul beberapa masalah yang orang tua tidak sanggup beri solusi yg satisfy kita. Di sini mulai muncul sosok seorang sahabat, teman, soul-mate yang hadir untuk memberi solusi buat masalah kita.
Tapi mulai semakin dewasa, ada masalah lagi yg bahkan orangtuda dan sahabat kita pun tak sanggup memberi solusinya.
Masalah itu adalah "kenapa dunia ini serasa sepi?"
Aku tadi jalan-jalan ke mall, tidak sendirian dan sama teman-teman. Setiap kali aku ngelihat orang-orang bergandengan tangan, aku mulai merasa hidupku serasa sepi, walau ada teman di sampingku.
Ternyata, di saat itu aku semakin merasa, bahwa aku memang perlu memiliki pendamping hidupku, Mrs. Slippe
Orang yang akan menemaniku di saat duka maupun suka. orang yang kepadanya akan kubagi rasa bahagiaku. Dan orang yang kepadanya akan kubagi rasa gundahku.
orang yang sanggup mengangkat beban rasa sedihku, dan orang yang sanggup memberi warna ceria di hari bahagiaku.
Awalnya aku bisa menghindar, daan kukatakan dengan lantang "Aku tidak butuh cintaaaaa!!!"
Tapi lama-lama aku sadari, aku ini hanyalah manusia biasa. yang butuh mencintai dan dicintai, dengan segenap hati
Aku tidak bisa ingkari rasa ini. Karena aku, adalah sosok yang dibentuk lewat jalinan cinta kasih, kedua orangtuaku
Slippe, 2008
03 September 2008
Hmm....
Hidup memang penuh misteri. Dan tentunya kejutan. I'm looking forward to waht kind of surprise that will happened to me XD