Tampilkan postingan dengan label Igo - Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Igo - Opinion. Tampilkan semua postingan

08 Oktober 2008

Opini Go Jateng

Kemarin saya baru saja berbincang-bincang dengan rekan saya sesama pengurus klub go di Semarang. Kami memperbincangkan tentang persoalan di milis, dan semua rekan-rekan pengurus sepakat menyatakan kekecewaan mereka atas sebuah organisasi yang mengatasnamakan nama Indonesia tapi hanya concern dengan daerahnya sendiri. Sama sekali tidak memikirkan daerah yang "katanya" mau dibentuk pengurusan cabang.

Beberapa dari rekan saya malah lebih ekstrim lagi mengatakan agar Jawa Tengah tidak usah mendukung mereka sama sekali, karena menurut rekan saya tersebut mereka tidak pernah memikirkan kita sama sekali, padahal mereka bilang mereka pusat. Dan ada yg lantas mengusulkan, mungkin sudah saatnya kita klub-klub di daerah yang merasa terpinggirkan dan terabaikan agar membentuk organisasi sendiri. Yah saya rasa itu juga ide yang bagus.

Dan soal pengiriman perwakilan Indonesia ke turnamen-turnamen luar negeri, sesuai dugaan saya, benar-benar membawa dampak yang sangat buruk bagi moral rekan-rekan saya. Mereka jadi berpikiran kita tidak mungkin bisa menjadi wakil Indonesia di turnamen luar negeri, sebab yang hebat semakin terasah, dan yang lemah semakin tertinggal.

Saya pribadi punya pendapat, tidak ada yang salah dengan hal ini. Kalau rekan-rekan saya mengeluh tidak salah, tapi tindakan "individualisme" pusat juga tidak salah. Sebab rekan-rekan saya melihat organisasi pusat sebagai pusat yang seharusnya memberi bimbingan dan bantuan (minimal) dalam bentuk perhatian (concern) secara berkala. Yang diinginkan rekan-rekan daerah sebenarnya bukanlah bantuan materi, melainkan bantuan berupa rasa care, semisal pertanyaan sederhana "Bagaimana kabar daerah?" dan itu selalu dilakukan secara berkala. Mungkin milis sudah bisa menjadi solusi, tapi saya rasa pendekatan personal, misalkan berupa menghubungi langsung via e-mail ke orangnya langsung atau SMS atau telpon ke CP-CP di daerah-daerah saya rasa adalah hal yang bagus. Meski pusat tidak bisa membantu dalam bentuk materi, tapi dukungan dan support semacam itu sudah berdampak positif buat perkembangan daerah.

Dan menurut saya pribadi, pusat melakukan apa yang ada sekarang juga tidak salah. Sebab pusat sudah mempunyai tiga hal, dana (minimal ketimbang daerah mereka jauh lebih baik), SDM (pemain-pemain berkualitas), dan yang terpenting adalah authority (sebagai organisasi yang diakui secara Internasional). Tanpa daerah, pusat sudah bisa berdiri sendiri. Jadi kalau mereka sama sekali tidak memikirkan daerah itu hal yang manusiawi dan natural sebagai sifat manusia, yakni "individualis" atau mungkin agak kasarnya (maaf) "egois".

Tulisan ini diposting agar menjadi bahan renungan. Bagi yang merasa tersinggung, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Bagaimanapun ini hanyalah opini dan suara hati kami para pengurus Go di Jawa Tengah.

14 September 2008

Modifikasi Igo

Mungkin anda merasa jenuh dan bosan dengan permainan igo yang biasa. Boleh saja mencoba beberapa modifikasi ini.

Pairgo

Ini adalah bentuk modifikasi paling umum dimainkan saat ini. Dimainkan secara beregu yang beranggotakan satu cowok dan cewek. Setiap pemain berjalan secara bergiliran. Yang umumnya cewek dulu yang jalan, baru kemudian cowoknya. Cara jalannya : misalkan tim pertama beranggotakan A (cowok) dan B (cewek). Sementara tim kedua beranggotakan C (cowok) dan D (cewek). Tim pertama memegang batu hitam, sementara tim kedua memegang putih. Maka aturan jalannya, adalah B, D, A, C, B, D, A, C, dst.
Mengenai Pairgo, pernah saya bahas dalam artikel sebelumnya. Silahkan dibaca kembali kalau masih kurang jelas.

Team-go

Dimainkan juga secara beregu. Di mana jumlah pemain tiap regu adalah 3-5 orang. Kalau dibuat sampai 5 orang, maka modifikasi igo ini akan seseru DOTA, menurut saya. Keanggotaan tiap regu bebas. Boleh cewek semua, cowok semua, atau campur (cowok cewek).
Lebih seru kalau dimainkan dalam sebuah ruangan khusus.
Untuk gambaran tentang bagaimana ruangan yang saya maksud, silahkan perhatikan gambar di atas. Ruangan tempat bermain adalah yang bernomor 1-10. Ruangan yang bernomor 1-5 adalah ruangan para pemain dari tim yang memegang batu hitam, dan yang bernomor 6-10 dari tim yang memegang batu putih. Posisi duduk setiap pemain adalah menghadap ke arah dinding. Dinding diposisikan sebagai ruangan bersimbol "B". Setiap pemain bisa mengamati kondisi permainan di atas papan (papannya ada di ruang tengah, yang bersimbol "A") lewat sebuah layar monitor yang terhubung ke sebuah komputer Panitia Pertandingan yang bertugas mencatat kifu (game record) dari pertandingan tersebut. Kemudian jika tiba giliran si pemain jalan, maka sebuah lampu sorot di ruangan tersebut akan menyala. Dan kemudian jika dia ingin melangkah maka dia akan keluar melalui pintu yang ada di belakang posisi duduknya,d an menuju ke ruang tengah (yang bersimbol "A). Setelah selesai meletakkan batunya, dia kembali ke ruangannya dan lampu sorot di ruangannya akan padam.
Di tiap-tiap ruangan pemain, dilengkapi dengan sebuah kaca yang bersifat "One way sight" di mana kacanya hanya bisa dilihat dari luar ruangan. Sementara di dalam ruangan akan tampak seperti cermin. Ini untuk menghindari si pemain tersebut berkomunikasi dengan pihak luar pada saat dia berada di dalam ruangan untuk berpikir.

Handicaped Igo

Ini bukan handicap yang seperti dalam permainan igo biasa, di mana pemain putih (yang lebih kuat) mempersilahkan pemain hitam (yang lebih lemah) untuk jalan duluan beberapa langkah sesuai jumlah handicapnya. Handicap yang saya maksud di sini agak lebih condong ke arah handicap seperti pada permainan golf.
Yaitu dengan membuat / mengubah bentuk papan igo lain dari biasanya. Bisa berbentuk segitiga, bisa berbentuk kotak namun di tengahnya bolong, trapesium, jajar genjang, atau bentuk lainnya. Dengan format seperti ini, maka setiap pemain akan membentuk model papan sesuai keinginannya, dan tentu sesuai dengan dia ahli bermain di papan seperti apa. Sehingga nantinya setiap pemain akan mengajak pemain lain tanding igo dengan tambahan frasa kata baru, yakni : "Eh tanding igo yuuk! Tapi pake papanku ya! Papanku yang bentuknya trapesium sama kaki itu lho."

Igo Battle Royale

Ide ini adalah ide yang pernah disampaikan oleh rekan saya, Pranathan T. Sederhana saja idenya. Dia penasaran, apakah sekiranya bisa igo dimainkan tidak hanya oleh dua tim, tapi bisa tiga, empat, lima atau bahkan enam tim. Sehingga nantinya tidak hanya ada batu hitam dan putih saja, tapi ada juga batu merah, batu kuning, batu biru, dan batu hijau. Wew.....menandakan igo bisa jadi kaya Partai Politik aja kan ^^
Mengenai peraturan di modifikasi ini saya sendiri belum menemukan formula yang pas. Jika ada dari teman-teman pembaca yang punya ide bagaimana seharusnya permainan ini berjalan, feel free untuk membagikannya lewat comment di post ini.

Big War Igo

Sederhana saja. Pernahkah anda membayangkan jika igo dimainkan di atas papan 51 x 51? Atau 127 x 127? Atau 1000 x 1000? Ya mungkin anda akan bertanya "Kapan selesainya!?"
Tapi tidakkah ini menarik untuk dicoba? Anda bisa mencoba mulai memainkannya lewat sofwtare Multigo bersama teman anda. Software Multigo sanggup melayani permainan hingga papan 52 x 52

09 September 2008

Masa Depan Dunia Igo

Saya baru saja membaca sebuah jurnal menarik dari Edward Zhang yang menceritakan tentang pengalamannya bermain pair go di North American Pair Go Championship. Menarik sekali....
Entah mengapa juga saya merasa masa depan dunia igo akan sangat cerah. Terutama juga di Indonesia.

Dan penyebabnya adalah, igo yang awalnya dimainkan secara individu (satu lawan satu), kini mulai ramai dimainkan secara beregu. Meski saat ini yang umum baru dua lawan dua, di mana satu regu terdiri atas cowok dan cewek. Namun, bukan tidak mungkin di kemudian hari igo akan dimainkan 3 lawan 3, 4 lawan 4, atau bahkan 5 lawan 5. Igo memang bisa saja sepopuler DOTA karenanya. Atau bahkan bisa lebih populer dari olahraga beregu seperti basket atau sepak bola :D
I hope so....

Pikir-pikir lagi, kaitannya dengan upaya mempromosikan permainan ini di Indonesia. Pair go bisa jadi salah satu senjata bagus untuk mempopulerkan permainan igo. Sebab, mungkin igo yang biasanya kurang diminati banyak orang karena terlalu individualis. Tapi pair go? Mereka akan merasakan nikmatnya bermain igo sambil berusaha mempersatukan kedua pemikiran demi satu tujuan.
Mempersatukan dua pemikiran demi satu tujuan. Itulah seninya. Dan salah satu alasan kenapa pair go menurut saya lebih enak adalah sebuah slogan umum yakni "Pair Go, kalau kalah sedihnya setengah, menang puasnya dobel".

Nah bagaimana menurut anda? Kenapa kita tidak mencobanya sekarang? Saya percaya pairgo tidak kalah asyik dengan igo yang biasanya. Let's Together! Let's Go!

16 Mei 2008

System Handicap

Hmm.....bicara soal Handicap, setiap orang punya penafsiran yang berbeda-beda soal kata yang satu ini.
Bagi orang awam, Handicap sama dengan cacat (di-Indonesiakan). Bagi seorang pe-golf, Handicap berarti tingkat kesulitan (disesuaikan dengan medan-nya). Sementara bagi pemain igo, Handicap adalah sebuah cara untuk membuat permainan seimbang jika terdapat gap skill antara kedua pemain yang bertanding.

Bicara-bicara soal Handicap yang terakhir ini, ternyata pak Ketua saya juga sependapat dengan saya. Handicap merubah style kita jadi cenderung bertahan. Aneh....di mana-mana beban biasanya ada pada pemain yang memberi (karena pemain yang memberi handicap lebih hebad). Tapi pada kenyataannya beban justru lebih banyak pada si penerima (karena si penerima merasa sudah unggul dulu, dan harus mempertahankan keunggulannya selama permainan)

Bayangkan !!! Jika anda sudah menguasai Life and Death (Istilah JGC disebut juga dengan Mikro) berhadapan dengan pemain yang baru tau dasar-dasarnya, maka saya jamin handicap 9 tidak akan cukup untuk menyeimbangkan kemampuan mereka.
Karena dari teori saja sudah terdapat perbedaan. Oleh karena itu daripada Handicap, lebih baik coba buad agar kedua pemain yg bertanding punya level teori yang sama.

Nah kalo level teori sudah sama, tinggal kemampuan implementasinya saja. DAn lagi-lagi sistem Handicap kurang efektif menurut saya. Karena pasti akan merubah style dan pola pikir kita.
Lalu apakah yang efektif itu??
Tidak lain dan tidak bukan adalah sistem Tagasaki. Meski pada awal-awalnya akan terasa "sakit" buat si "lemah", tapi si "lemah" tadi akan mendapat buah yang manis akibat rasa sakit yang diderita tadi.

Dan perlu diketahui, bahwa saya belajar igo dari awalnya baka dan selalu kalahan melawan komputer, sampai sekarang selalu menang, ndak pernah saya diberi handicap. Kalo memberi sih akhir-akhir ini sering D: (Cuma buad test serangan aja D:)

Bai the wei ini cuma sekedar opini saia aja...
Boleh setuju boleh ndak D:
Yang penting mari kita sukseskan program "Orang Indonesia Melek Igo"!!


Salam Tengen
 
>