Tampilkan postingan dengan label Hasil Kreatifitasku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasil Kreatifitasku. Tampilkan semua postingan

21 Oktober 2008

The Alter Gate of Althema

What is this? Apa ini? Hmm......tepat! Ini adalah judul sebuah game yang merupakan sequel pertama dari unlimited-logy game RPG karya saya sendiri yang berjudul The Althema Chronicle. Meski nama Althema memang nampak familiar, namun isi cerita bahkan termasuk World Creation dan World System Cycle di dalamnya adalah murni pemikiran saya sendiri.

Ide ceritanya diambil dari un-finished novel saya yg berjudul "The Chaos". Jika anda memainkan game ini dan mengetahui ceritanya, maka anda tetap tidak akan mengetahui keseluruhan gambaran cerita dari Althema Chronicle itu sendiri. Sebab untuk sequel pertama ini saya malah mengambil setting peradaban akhir-akhir, dan bukan peradaban mula-mula Althema terbentuk

Apa itu Althema? Lain waktu saya akan post tentang Althema. Satu hal yang bisa saya bilang tentang game saya ini, selamat pusing! Karena isinya penuh dengan puzzle dan labyrinth ;)
Berhubung game ini sendiri masih dalam tahap awal proses pembuatan, dan saya juga masih memiliki tugas utama riset, maka game ini baru akan dilaunch agak lama. Entah kapan.

04 September 2008

Jalan Kaki (bagian pertama)

Hari semakin gelap. Matahari telah kembali ke peraduannya. Pandanganku mulai meredup. Kulihat di sekelilingku, lalu lintas tetap ramai. Sorot lampu mobil dan motor berlari-lari ke sana kemari. Tak ada satu orangpun pejalan kaki di sekelilingku. Tapi itu tidak membuatku merasa kesepian. Senandung penyanyi pop terkenal kulantunkan dengan mantap. Aku merasa capek tapi bahagia. Aku berhasil menyelesaikan tantangan yang kubuat sendiri. Sesekali kulambaikan tangan ku ke kiri dan ke kanan. Bak seorang penyanyi konser yang sedang beraksi di atas panggung. Beberapa kendaraan yang melintasiku berhenti karena lampu merah. Kepala mereka melongok ke luar jendela. "Kau tidak akan bisa merasakan kebahagiaan yang kurasakan saat ini!", teriakku dalam hati. Mereka tersenyum-senyum sendiri. Pasti mereka pikir aku sudah gila. Di tengah serba ketidakpastian yang melanda negara ini, bagaimana mungkin bisa ada orang yang segembira itu. Pasti itulah yang ada di benak mereka. Tidak! Merekalah yang berpotensi gila! Sebab mereka selalu membawa persoalan hidup mereka setiap harinya. Kalo aku? Selalu berusaha kulepaskan di malam harinya. Entah dengan bernyanyi atau dengan menulis. Yang jelas nggak pernah dengan cerita ke orang lain. Memang aku punya siapa? Orang tua? Mereka terlalu sibuk bekerja! Teman? Mereka hanya ada di saat aku senang! Satu-satunya orang yang bisa kupercaya hanyalah diriku sendiri. Dan tentu saja sebuah kotak berlayar, tempatku mencurahkan semua isi hatiku lewat tulisan.

Kulihat jam tanganku. Sudah menunjukkan pukul 18.45. Kakiku mulai nggak bisa diajak kompromi. Padahal sudah separuh jalan. Nggak! Nggak boleh aku nyerah begitu aja! Perempatan momok sudah kulewati. Tinggal jalan lurus aja untuk menuju ke rumahku. Aku nggak boleh naik kendaraan umum. Apalagi sampe nelpon pak supir minta jemput. Tapi kalo cuma berhenti sebentar kan boleh aja. Lagian aku haus. Aku nggak mau pingsan di jalan karena kehausan. Kulihat dari kejauhan, ada sorot lampu petromak. Ah! Bagus! Ada warung! Aku berjalan beberapa langkah menuju sorot lampu. Berhenti di depan warung, dan minta teh botol, minuman favoritku. Ahh....lega banget. Setelah bayar minuman, aku kembali melanjutkan perjalanan. Dan sepuluh menit kemudian aku sampai di rumah. Bibi membukakan pintu pagar. "Tadi naik angkot, non?", tanya bibi. "Nggak bik! Aku jalan kaki dari sekolah tadi.". Bibi keheranan. Aku langsung nyelonong masuk, sambil ninggalin bibi yang masih melongo takjub sekaligus nggak percaya. Ruang keluarga masih kosong. Berarti papi mami belum pulang. Kalau sudah pulang biasanya papi mami duduk santai di sofa ruang keluarga, sambil baca koran yang nggak sempat dibaca pagi hari. "Non Silvi, makan malem udah bibi siapin di meja.", teriak bibi dari dapur. Aku nggak memperdulikan si bibi ngomong apa. Langsung aja aku naik ke atas, menuju kamarku. Di kamar, aku tiduran sebentar. Nggak sampai 20 menit, aku kebangun. Badan capek. Kaki pegel. Langsung kuseret handuk di jemuran dan bergegas ke kamar mandi. Di kamar mandi, aku melanjutkan euforiaku. Sambil lagi-lagi bergaya bak Mai Kuraki, penyanyi idolaku, yang sedang konser.

Selesai mandi, aku ke ruang makan sebentar. Ngintip ada apa di balik tutupan meja makan. Ada ayam goreng, sayur asem, sama sambal. Bah! Lagi-lagi bibik masaknya ndak mutu, pikirku. Tapi daripada kelaparan, aku nurut aja. Habis makan aku bergegas kembali ke kamar. Pas menuju kamar, aku dengar suara papi sama mami di bawah, baru pulang. Ah! Aku males turun! Lagian aku masih kesel gara-gara aku nggak dijemput tadi pulang sekolah. Perjalanan ke kamar berlanjut. Di kamar, aku nelpon Mitha, teman sebangkuku. Kita ngoborol-ngobrol di telpon cukup lama. Di telpon aku menceritakan bagaimana aku berhasil menyelesaikan tantanganku yang kubuat sendiri, jalan kaki dari sekolah sampai ke rumah. Mitha takjub sekaligus nggak percaya. Dia ngasih applause buat aku. Aku jadi geer sendiri. Terus aku bilang ke dia, besok pagi aku mau coba jalan dari rumah sampai ke sekolah. Supaya tantanganku sempurna jadinya. Mitha sempat ngelarang. Katanya dia takut satu kelas jadi bau keringatku. Nggak mungkin, kataku. Aku nanti bakalan bawa deodoran sama parfum buat nutupin bau keringat. Mitha akhirnya nyerah juga. Dia tau kalau aku orangnya keras kepala. Kuakhiri pembicaraanku dengan sahabatku di telpon dengan ucapan selamat malam. Lalu kututup telponnya perlahan-lahan.

Jam di HP baru menunjukkan pukul 4.30 pagi, tapi alarm sudah berbunyi. Sengaja kupasang dengan suara yang agak lembut, supaya nggak membangunkan yang lain. Suara alarmku, lagunya Mai Kuraki yang Secret of My Heart versi piano. Sengaja kurekam sebulan lalu, dan kusetel jadi alarm. Cuma dengan cara ini aku bisa kebangun.

Sambil mengendap-ngendap aku mengambil handuk di jemuran, terus mandi. Aku mandi sambil lagi-lagi menirukan gaya Kuraki Mai yang lagi konser. Selesai mandi, aku cepat-cepat berpakaian. Kutengok jam dinding. Masih jam 5.15. Aku ke meja makan, dan melihat sarapan sudah siap di atas meja. Aku memang sengaja bilang ke bibi tentang rencanaku mau berangkat sekolah jalan kaki pagi ini. Aku juga sudah pesan ke bibi supaya bilang ke papi mami kalau aku berangkat pagi bareng Mitha karena ada jadwal piket. Sekarang sudah jam 5.25. Berarti aku masih punya waktu 35 menit lagi sebelum pelajaran tambahan dimulai, tepat jam 06.00 pagi.

Aku keluar rumah secara perlahan-lahan. Bibi membuntutiku dari belakang. Dia ikut membantu membukakan pagar. Kalau dua orang yang buka suaranya bisa lebih pelan. Apalagi tadi malem aku sudah suruh bibi untuk memberi minyak supaya pagarnya nggak seret waktu dibuka. Kalau seret bisa menimbulkan suara yang keras dan nggak enak. Kalao sudah begitu, rencanaku bisa ketahuan.

Rencana awal berjalan mulus. Aku sudah di luar pagar. Segera kusongsong jalan setapak menuju ke depan komplek. Kusapa pak satpam penjaga komplek, sambil mengingatkan perjanjian kami tadi malam. Selain bibi, pak Satpam juga sudah kusogok. Supaya kalo mami papi nanya tentang aku, bilang aku tadi pagi berangkat sama Mitha.

Aku sudah sekitar 10 langkah menjauhi gerbang komplek. Sambil jalan, kuhirup udara pagi yang segar. Hmm….kalau nggak jalan kaki nggak mungkin bisa merasakan yang kaya begini, pikirku. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 5.35 pagi. Gawat!! Tinggal 25 menit lagi. Kupercepat langkah kakiku. Sebentar, kembali kukurangi jangkauan langkah kakiku. Sambil mengatur nafas, sambil bersenandung dalam hati. Kali ini lagunya Kuraki Mai yang Stay by My Side. Lagu itu kusenandungkan seperti doa. Supaya Tuhan keep stay by my side. Tentu saja syairnya sedikit kurubah.

Dua menit lamanya aku berjalan agak santai. Setelah itu kembali kupercepat ayunan langkah kakiku. Jangkauannya pun kutambah. Dengan begini aku bisa sampai tepat waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 5.45. Perempatannya saja belum terlihat. Begini caranya aku bisa terlambat nich. Langkah kakiku semakin kupercepat. Kini aku sedang dalam tahap tiga per empat lari. Akhirnya sampai juga di perempatan. Masih ada 10 menit. Perempatan masih sepi. Langsung saja kuseberangi....

(To be Continued)

13 Agustus 2007

Lihatlah ke Dalam Hati

Saat kubertemu kali pertama
Ku tertegun dengan penampilannya
Merdu suaranya
Paras cantiknya
Membuat diriku terpesona

Tanpa pikir panjang ku langsung saja
Tanya berapa nomor teleponnya
Dan tunggu saja
Telepon dari saya
Mungkin esok pagi atau siangnya

Tapi apa yang terjadi
malamnya di televisi
Kulihat dia digelandang polisi
Ternyata dia pencuri
Yang nyatroni rumah mami
Kau ubah cintaku jadi benci

Itulah namanya juga manusia
Jangan hanya percaya luarnya
Tapi lihat juga ke dalam hati
Agar jangan sampai kau tersakiti

Wajahmu memang benar-benar cantik
Kau buat wanita lain sirik
Walau panas terik
Bising suara pabrik
Namun dirimu tetap menarik

Tapi apa yang terjadi
malamnya di televisi
Kulihat dia digelandang polisi
Ternyata dia pencuri
Yang nyatroni rumah mami
Kau ubah cintaku jadi benci

Itulah namanya juga manusia
Jangan hanya percaya luarnya
Tapi lihat juga ke dalam hati
Agar jangan sampai kau tersakiti

Itulah namanya juga manusia
Jangan hanya percaya luarnya
Tapi lihat juga ke dalam hati
Agar jangan sampai kau tersakiti

Gara-gara Lampu Mati

Suatu ketika di malam hari
Listrik di komplekku tiba-tiba mati
Gak ada TV
Kulkas juga mati
Anjingkupun ikutan mati
Ketabrak truk tangki
Semua ini terjadi
Gara-gara lampu mati

Akupun merugi
Siapa yang mau ganti
Berilah hamba sedikit rejeki
Akupun merugi
Siapa yang mau ganti
Berilah hamba sedikit rejeki

Esokan paginya, kubersiap mau pergi
Berangkat lagi, cari sesuap nasi
Di malam hari
Listrik mati lagi
Istriku nagih, tapi ku gak bisa janji
Dia pun ngancam mau minta cerai
Semua ini terjadi
Gara-gara lampu mati

Akupun merugi
Siapa yang mau ganti
Berilah hamba sedikit rejeki
Akupun merugi
Siapa yang mau ganti

Handphone (Lagi)

Lagi-lagi aku terpikir untuk membuat film dengan judul yang sama, Handphone.
Kali ini ceritanya berbeda jauh.

Handphone kali ini berkisah tentang seorang wanita bernama Lara, yang mengalami trauma akibat sebuah peristiwa tragis.
Lara, secara mukjizat, selamat dari aksi peledakan sebuah gedung, yang dilakukan oleh sekelompok penjahat.

Pada saat hendak menuju ke kantin, dia menemukan sebuah bungkusan aneh di bawah tangga. Bungkusan itu berisi sebuah bom dengan handphone sebagai pemicunya. Saat ia mengetahui apa isi bungkusannya, dengan panik ia berusaha memberitahukan satpam gedung. Namun malangnya, belum sempat ia menemui satpam gedung, bom keburu diledakkan oleh seorang penjahat dari jarak jauh.
Dering handphone yang berada di dalam bungkusan tersebut telah memicu sebuah ledakan.

Beruntung ia masih bisa terselamatkan, meski luka cukup parah. Dan wajahnya yang rusak berhasil dioperasi.
Luka fisik boleh sembuh total. Tapi trauma akibat kejadian tersebut masih tetap membekas hingga berbulan-bulan setelah kejadian.
Ia jadi sering ketakutan setiap kali mendengar dering handphone.

Suatu hari ia menemukan sebuah handphone tergeletak di jalan.
Dan anehnya handphone tersebut berdering......
Nun jauh di sana, seorang wanita tua sangat membutuhkan bantuan, dan bermaksud meminta bantuan pada si empunya handphone tersebut.
Awalnya, saat mendengar dering handphone di pinggir jalan tersebut, Lara sangat ketakutan.
Tapi, anehnya, takutnya perlahan hilang. Insting wanitanya mengatakan, bahwa ini saat yang tepat baginya untuk mengakhiri rasa takutnya tersebut.
Saatnya keluar dari trauma.
Dan untuk beberapa saat, ia bisa terpikir bahwa orang yang berada di balik telepon sedang membutuhkan bantuan.

Nah, bagaimana kisah selanjutnya?
Apakah Lara sanggup mengakhiri trauma-nya dan menolong orang yang berada di balik telepon itu?
Atau, Lara tetap patuh dan tunduk pada perasaan traumanya?

Tunggu saja tanggal mainnya!!

Handphone (bagian kedua)

Ini kelanjutan ringkasan film yang saya rencanakan untuk akan dibuat (nah lhoo....bahasanya belibet tuuh....)

Akhirnya handpone Ali yang terjatuh itu ditemukan oleh Marno (Agus Kuncoro), seorang preman kelas teri yang kerjanya cuma judi, malak, mabuk, dan nyopet.
Karena merasa handphone itu masih bagus, Marno bermaksud menjualnya ke teman-temannya.
Tapi sayangnya tidak ada satupun yang mau membayar harga yang diminta Marno. "HP model kaya gini, udah gak jaman lagi bung!!" cetus Kusno (Djaduk), salah satu kawan Marno yang ditawari HP tersebut.
Karena merasa tawaran teman-temannya terlalu murah, Marno pun langsung memutuskan untuk memakai HP itu sendiri.
Pada suatu hari, saat keinginan Marno untuk menjual HP-nya mulai surut, Marno menemukan rekaman konspirasi yang direkam Ali.
Marno mengira konspirasi yang ada dalam rekaman tersebut hanyalah bagian dialog sebuah drama.
Muncullah idenya untuk kembali menawarkan HP tersebut.

"Mas ini HP, bukan sembarang HP. HP ini dulunya milik pejabat penting lho.....
Coba mas dengerin aja, ada suara pejabatnya". Begitulah kira-kira cara Marno menawarkan kembali HP-nya pada teman-temannya, seraya memperdengarkan rekaman konspirasi tersebut.
Setelah teman-temannya mendengar rekaman itu, justru tawaran demi tawaran yang jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan Marno, berdatangan kepadanya.

Berita tentang HP yang memuat isi rekaman suara pejabat langsung terdengar sampai ke telinga Djatmiko.
Ia lalu menyuruh anak buahnya untuk menculik Marno.
Nyawa Marno pun dalam bahaya.
Ia harus lari dari kejaran orang-orang suruhan Djatmiko. Dan keinginannya untuk menjual hp pun pupus sudah. Karena Marno, dan tentunya bersama sang HP, harus kabur keluar dari kampungnya.

Dalam pelariannya, Marno tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis bernama Sania (Bunga Citra Lestari), yang ternyata adalah seorang polisi.
Dia sendiri sedang ditugasi menyelidiki konspirasi di tubuh kepolisian yang juga melibatkan nama Djatmiko.

Sudah bisa ditebak bagaimana kisah kelanjutannya, kan?

Skenario di atas masih berupa gambaran besarnya saja.
Detilnya masih akan saya bahas bersama teman-temannya.
Jika memang cerita ini tidak bisa dibuat film, maka akan saya buatkan dalam bentuk cerbung atau novel.
Jadi tunggu aja kabar dari saya, okay?

Handphone (bagian pertama)

Saya sedang berpikir untuk membuat sebuah film.
Film yang hendak saya buat bertemakan konspirasi. Sebuah tema yang menjadi favorit saya. Filmnya nanti akan saya beri judul "Handphone".
Sepertinya judul tersebut belum pernah dipakai sebagai judul film di Indonesia.
Kata "handphone" memang sudah terlalu sering kita dengar. Sehingga mungkin ada di di antara kita yang berpikir kata tersebut tidak layak dijadikan judul sebuah film.
Justru saya melihat, bahwa kata "handphone" dapat memiliki banyak arti, bila dipake sebagai judul film.
Orang pasti akan menerka-nerka bagaimana jalan ceritanya.

Daripada pusing menerka-nerka, saya beritahu saja kira-kira bagaimana gambaran ceritanya. Ini dia.
Alkisah di sebuah kota besar, sedang berlangsung masa-masa menjelang pemilihan Kepala Daerah.
Dua orang calon kepala daerah (walikota) yang mencalonkan diri adalah Djatmiko (saya inginnya diperankan oleh Butet Kertaredjasa) dan Susilo (Rudy Salam).
Djatmiko selama ini dikenal masyarakat luas sebagai seorang yang baik hati, dermawan, dan memiliki sebuah Yayasan besar yang mendanai pendirian sekolah swasta favorit di kota tersebut.
Sebut saja sekolah itu bernama sekolah Harapan Bangsa (namanya hanya karangan belaka).
Namun siapa yang tahu, bahwa Djatmiko adalah seorang bos mafia. Yang ternyata menjadi otak dari mayoritas peredaran obat-obat terlarang di kota tersebut.

Suatu hari, seorang murid nakal di sekolah itu, sebut saja namanya Ali (belum dapat ide siapa yang cocok memerankannya), sedang melintas di ruang kepala sekolah. Dia mendengar pembicaraan yang mengejutkan antara sang kepala sekolah, Widjojo (Derry Drajat), dan sang pemilik sekolah yang sekaligus juga calon kepala daerah, Djatmiko.
Sebuah pembicaraan tentang konspirasi yang mengerikan.
Sebuah perencanaan pembunuhan terhadap Susilo dengan dalih kecelakaan.
Tidak hanya Djatmiko dan Widjojo (kepala sekolah, yang tidak lain adalah kaki tangan Djatmiko sendiri), Ali juga mendengar suara lain yang cukup familier di telinganya, meski dia tidak melihat wajahnya.
Ali langsung berinisiatif untuk merekam pembicaraan mereka via handphone miliknya.
Sayang usaha Ali tidak sempurna berhasil. Pada saat tengah asyik merekam, dia dipergoki oleh penjaga sekolah, Suryo (Cak Lontong).
Ali langsung lari, terus menerus lari, dan berhasil menerobos keluar dari gerbang sekolah. Pada saat dia tetap berlari, meski sudah keluar dari gerbang sekolah, tanpa sadar handphonenya terjatuh.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya?
Mampukah Ali menggagalkan rencana jahat Djatmiko?

Tunggu kelanjutannya!!
 
>