14 September 2008
Resensi : Cagur Naik Bajaj
Bajaj yang biasanya dalam perform lawak biasanya kurang bisa menghibur (menurut saya) ternyata jauh lebih baik ketika memainkan sebuah situasi komedi seperti ini. Karakter setiap personil justru malah bisa tereksplorasi dengan baik. Apalagi grup ini disandingkan dengan grup lawak kawakan seperti Cagur. Jadilah sitkom ini menjadi hiburan tersendiri setiap malam, apalagi tayangnya setiap hari.
Dalam sitkom ini diceritakan Narji, Wendi, dan Deni adalah mahasiswa di Universitas Pendidikan Jakarta. Narji adalah mahasiswa jurusan Olahraga, Wendi jurusan Seni Rupa, dan Deni jurusan Ekonomi. Sepanjang cerita, ketiga mahasiswa tersebut selalu mengadakan interaksi dengan Bu Ayu (dosen mereka), Melki, Isa, dan Aden (supir bajaj), Bunga, Lolo, Pinkan (mahasiswi), Bang Wahid (satpam kampus), Mbak Surti (pemilik Warteg), dan tante pemilik kantin.
Ada-ada saja masalah yang terjadi di situ yang melibatkan tokoh-tokoh di atas. Cerita dari awal sampai akhir selalu dibumbui dengan banyolan-banyolan serta kekocakan-kekocakan dari personil-personil Cagur dan Bajaj.
Bagi para pembaca yang belum pernah menyaksikan sitkom ini, saya rekomendasikan untuk menyaksikannya di ANTV. Setiap Senin sampai Kamis pukul 20.00 WIB - 21.00 WIB dan Jum'at sampai Minggu pukul 19.30 WIB sampai 20.30 WIB.
Untuk sitkom ini saya beri nilai 9,25 /10
03 September 2007
Review "Big Five" 28 Agustus 2007
Tapi lebih baik terlambat daripada tidak kan?? :)
Ok, ini dia penilaianku terhadap para peserta...
Ajeng :
Awal yang Indah (8)
Dokter Cinta (8,25)
Zona Kritis ---vote : 75---
Ecca :
Lagu Rindu (7,75)
Bukan Permainan (8,25)
Zona Kritis ---vote : 57---
---Tereksekusi---
Fiersha :
Langkah di Persada (7,5)
Tak kan Sampai di Sini (8)
Zona Kritis ---vote : 69---
Margareth :
Ketahuan (7,75)
Aku Cinta Kau dan Dia (8,75)
---Penampilan Ekstra---
Mytha :
Dahulu (8)
Soulmate (8,5)
28 Agustus 2007
Football Manager (bagian kedua)
Pemain asal Amerika ini, masih berusia 17 tahun. Walaupun begitu, skillnya nggak usah diragukan lagi dech...
Posisinya sebagai gelandang serang, dan bisa ditempatin di kiri, tengah, atau kanan.
Tapi, berhubung usianya masih sangat muda, jadi kadang-kadang permainannya kurang konsisten, sehingga menurutku sih dia cuma cocok buat jadi aset masa depan aja. Sedangkan kalo mau nurunin dia sebagai starter, sebaiknya sang pelatih mesti mikir-mikir dulu dech...
Diego Marangon
Posisinya adalah sayap kiri. Kecepatan dan skillnya ngga terlalu buruk. Dan dia punya kelebihan lain....harga yang relatif murah!! Jadinya dia bisa jadi pilihan buat klub-klub gurem atau klub-klub dengan level sedang.
Dari segi statistik emang ngga terlalu meyakinka sich. Tapi berhubung usianya masih sangat muda, peluang buat dia jadi pemain top class pun kayanya masih terbuka lebar.
Charles N'Zogbia
Berposisi sama kaya Diego Marangon. Plus, dia juga bisa main sebagai gelandang serang tengah (Attacking Midfield Center), ataupun gelandang tengah (Midfield Center). Di FM 2007, dia berstatus Listed for Loan di klubnya Newcastle United. Jadi, buat ngetes kemampuannya gak perlu beli. Cukup minjem aja.
Tapi di dunia yang sebenarnya, di musim kompetisi 2007/2008 ini, dia udah jadi andalan Newcastle United.
Matuzalem
Bagi para pecinta Liga Italia, namanya mungkin udah ngga asing lagi di telinga. Maklum, Matuzalem emang pernah beberapa musim merumput di Serie A bersama Brescia. Dan sekarang, pemain asal Brazil ini merumput di Ukraina, membela klub Shakstar Donetsk.
Posisinya sebagai gelandang bertahan. Tapi bisa juga sebagai gelandang tengah. Di FM, statistiknya cukup memukau. Dan harganya.....bisa dibilang cukup mahal!
Maklum aja, di Shakstar statusnya Indispensable. Jadi butuh dana yang cukup besar buat merekrutnya.
(To be Continued)
26 Agustus 2007
Ada Apa Dengan MU??
Pasalnya dari tiga lawan yang dilakoni oleh Ryan Giggs dkk., tak satupun yang berbuah kemenangan. Hal ini tentu menjadi sangat kontras dengan prestasi mereka di awal musim lalu.
Setelah ditahan imbang 0-0 dan 1-1 oleh Reading dan Portshmouth, MU malah mesti menelan kekalahan 0-1 dari rival sekota mereka Manchester City.
Apakah ada yang salah dengan skuad MU? Saya rasa tidak!
Musim ini mereka sudah mendapat apa yang mereka mau dan perlukan. Mulai dari Nani, Anderson, dan juga gelandang yang sudah diincar Sir Alex sejak musim lalu, Owen Hargreaves. Bahkan masih belum puas dengan pemain-pemain baru itu, Sir Alex pun kembali mendapatkan tanda tangan Carlos Tevez, beberapa hari menjelang partai perdana Premier League bergulir.
Di balik layar, Sir Alex masih setia memberi instruksi kepada seluruh pemain=pemain MU.
Dan sepekan menjelang Premier League kembali berlangsung, mereka sukses memboyong titel Community Shield dengan menghempaskan Chelsea lewat adu pinalti.
Lalu apa yang salah?
Memang ada sebuah mitos, bahwa klub yang berhasil merebut titel piala super di liga mereka masing-masing, terancam akan gagal di musim kompetisi.
Selain itu, MU mungkin juga terkena "kutukan Tevez". Sebab biasanya klub yang diperkuat Tevez justru malah akan memble. Ingat kasus West ham musim lalu dan perhatikan pula apa yang dialami Corinthians!
Jika MU terus seperti ini, berarti jalan bagi Chelsea untuk bisa kembali meraih gelar juara Premiership yang "dirampas" MU musim lalu, semakin terbuka.
Namun bagaimanapun juga, kompetisi masihlah sangat panjang. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Segala kemungkinan pun masih bisa terjadi.
Sekarang tinggal kita nantikan saja. Apakah MU akan mampu kembali bangkit dari kondisi keterpurukannya dan mengakhiri musim sebagai pemenang? Atau mereka akan tetap terjerembab seperti yang dialami sekarang dan mengakhiri musim sebagai pecundang?
24 Agustus 2007
The Big Five
Ada apa dengan pihak panitia?
Mungkinkah persaingan yang sangat ketat, membuat panitia (dalam hal ini eksekutor) kebingungan menentukan siapa yang harus keluar dari perhelatan terbesar di Indosiar ini?
Atau mungkin juga penyelenggara sengaja melakukan hal ini, agar jumlah episodenya dapat lebih panjang lagi, dan yang pastinya dana sponsor pun akan tambah berlipat...
Keputusan penyelenggara meniadakan eksekusi minggu ini, menjadi berkah buat Margareth dan Mama Saidah. Sebab, dari hasil perhitungan voting, Margareth dan Mama Saidah memperoleh hasil terendah, yakni 55. Itu berarti, seharusnya Margareth dan Mama Saidah tereksekusi.
Selain meniadakan eksekusi, yang berbeda dari episode kali ini adalah tiap peserta diharuskan menyanyikan dua buah lagu. Sehingga penilaian eksekutor dilakukan dua kali.
Oke....tanpa perlu banyak berbasa-basi lagi, inilah penilaian saya terhadap penampilan tiap peserta.
Margareth
Penampilan Pertama :
Lagu : Bidadari ---> Nilai dari Saya (NS) : 7,5
Penampilan Kedua :
Lagu : Cinta Sejati ---> Nilai dari Saya (NS) : 8,75
Overall :
Nilai dari Juri Vote Lock (NVL) : 55
Nilai dari Saya (NS) : 8,125
Fiersha
Penampilan Pertama :
Lagu : Selamat Datang Cinta ---> NS : 8,25
Penampilan Kedua :
Lagu : Nakal ---> NS : 7
Overall :
NVL : 71
NS : 7,625
Mytha
Penampilan Pertama :
Lagu : Jemu ---> NS : 7,75
Penampilan Kedua :
Lagu : Takkan Terganti ---> NS : 8,25
Overall :
NVL : 82 (Penampilan Ekstra)
NS : 8
Ajeng
Penampilan Pertama :
Lagu : Malam Pertama ---> MS : 7,5
Penampilan Kedua :
Lagu : Biarlah Rahasia ---> NS : 8,25
Overall :
NVL : 70
NS : 7,875
Ecca
Penampilan Pertama :
Lagu : Bukan Diriku ---> NS : 9
Penampila Kedua :
Lagu : Baby Doll ---> NS : 7,75
Overall :
NVL : 74
NS : 8,375 (Penampilan Ekstra versi saya)
21 Agustus 2007
PSIS Dalam Analisa : Persib vs PSIS
Babak pertama berlangsung seru, meski kedua tim tidak terlalu banyak mendapatkan peluang emas.
Persib mendominasi jalannya babak pertama, dengan penguasaan bola 55 %.
Zainal Arief, Christian Bekamenga, dan Ridouane Barkoui bergantian memborbardir pertahanan "Mahesa Jenar". Namun ketatnya pertahanan PSIS yang dikomandoi oleh bek timnas PSSI, Maman Abdurrahman, membuat frustasi para penyerang Persib. Rasa cemas semakin menjadi-jadi setelah bomber andalan Maung Bandung, Zaenal Arief, harus ditarik ke luar lapangan dan digantikan oleh Erik Setiawan karena cedera.
Barkoui yang tadinya lebih banyak beroperasi di sayap kiri pun langsung didorong lebih ke depan, bersanding dengan Christian Bekamenga.
Namun strategi pelatih Arcan Iurie ini tetap tak membuahkan hasil.
Sementara dari kubu PSIS, absennya Joao Carlos mengurangi kreativitas serangan anak asuhan Bonggo Pribadi ini. Praktis serangan lebih banyak bertumpu pada Julio Lopez. Akibatnya serangan-serangan yang dilancarkan juga cukup mudah dipatahkan oleh barisan pertahanan Persib.
DI akhir babak pertama, sebenarnya PSIS mendapat peluang, namun ketidakpaduan antara Julio Lopez dan penyerang baru Igor Joksimovic membuat peluang tersebut terbuang percuma.
Hingga akhir babak pertama skor berakhir imbang, 0-0
Di babak kedua, pertandingan berjalan semakin menarik. Masih di awal-awal saja, kedua tim sudah mendapat masing-masing satu peluang emas.
Baru beberapa menit pertandingan babak kedua berjalan, Persib mendapat peluang lewat Patricio Jimenez. Sayang tendangan bek Persib ini masih menyamping di kanan gawang IKP.
Sementara di menit 48, Igor Joksimovic nyaris membawa PSIS unggul. Namun sepakannya masih dapat diblok oleh Tema Mursadat.
Pertengahan babak kedua, pertandingan jadi milik Persib. Gempuran-gempuran hebat dilancarkan ke gawang IKP. Hal ini memaksa para pemain PSIS berjibaku untuk mempertahankan daerah mereka. Untungnya IKP tampil sangat cemerlang, hingga tak satupun gempuran dapat berbuah gol.
Sebaliknya, PSIS malah mampu mencuri gol di menit 84.
Gol berawal dari Julio Lopez yang mampu melepaskan diri dari pengawalan Sony Kurniawan di sayap kiri. Kapten Mahesa Jenar ini kemudian memberikan umpan crossing pada Igor Joksimovic. Umpan Lopez tersebut disambut oleh Igor dengan satu sentuhan sebelum ia memberikan bola kepada Khusnul Yakin yang tiba-tiba muncul dan langsung melepaskan tendangan yang tak mampu dihalau Tema Mursadat. Gol Khusnul Yakin ini disambut dengan gembira oleh para pemain, official, dan seluruh pendukung PSIS yang hadir di Stadion Siliwangi, Bandung.
Skor 0-1 untuk PSIS pun bertahan hingga babak kedua usai. Dan PSIS pun sukses membawa pulang 3 poin. Bravo PSIS!
Pada pertandingan kali ini, PSIS mampu menampilkan performa yang sempurna. Pertahanan kokoh, dipadu dengan kecemerlangan IKP dalam mengawal gawang PSIS, membawa Julio Lopez dkk. pulang ke Jatidiri dengan mencuri 3 poin dari Persib.
Meski sudah tampil baik, bukan berarti tidak ada kritikan yang perlu dialamatkan ke kubu PSIS. Beberapa kali blunder yang dilakukan pemain belakang PSIS, perlu mendapat perhatian Bonggo Pribadi sebagai pelatih.
Ya, apapun kelemahan kubu PSIS pada partai tersebut, PSIS sudah berhasil mengalahkan tim papan atas. Itu sudah menjadi sebuah kemajuan bagi Mahesa Jenar. Selamat buat PSIS!
19 Agustus 2007
Resensi : Click
Meski kekonyolan Adam Sandler dalam film ini tidak seheboh Jim Carrey dengan Ace venturanya, namun cukuplah rasanya untuk menggelitik saraf tawa kita.
Film Click adalah sebuah film bergenre komedi fiksi. Dan menurut saya, sang penulis skenario dengan begitu hebatnya mampu menggali serta mengeksplorasi cerita, sehingga terciptalah sebuah film fiski yang cukup detil.
Film berawal dari keinginan Michael Newmann (Adam Sandler) untuk memiliki sebuah remote universal, satu remote yang mampu mengerjakan semua, mulai dari menghidupkan TV, membuka pintu garasi, bahkan sampai mengendalikan mobil-mobilan milik anaknya.
Keinginan Michael ini terpicu secara otomatis, karena pada saat ia hendak menyalakan TV di rumahnya, selalu saja ia salah menekan remote. Alih-alih ingin menghidupkan TV, malah pintu garasi yang terbuka. Bukan hanya pintu garasi, tapi juga kipas angin dan mainan radio control anaknya yang sering tertekan, saat ia bermaksud menyalakn TV. Maklum saja, di rumah Michael memang banyak sekali remote control, sehingga ia bingung yang mana remote untuk TV dan yang mana remote untuk lainnya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke toko "Bed, Bath, and Beyond", untuk membeli remote yang ia sebut sebagai remote universal. Sebuah remote yang mampu mengerjakan semua.
Di toko ini ia bertemu dengan Morty, orang yang berpakaian seperti profesor.
Michael akhirnya mendapatkan apa yang diidamkannya selama ini. Namun pada saat ia sampai di rumah, betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa remote yang baru saja didapatnya dari Morty secara gratis, tidak hanya mampu mengendalikan semua pekerjaan (universal) sesuai keinginannya, tapi juga mampu mengendalikan seluruh alam semesta (universe).
Michael sendiri baru mengetahui hal ini di rumah, saat ia tidak sengaja mengarahkan remote-nya ke arah sang istri yang sedang mengomel seraya menekan tombol stop. Dan...voila!
Sang istri pun berhenti seketika.
Michael dan remote barunya awalnya nampak akrab dan tidak memiliki masalah.
Masalah sendiri mulai dialami Michael saat ia tidak sabar untuk menantikan waktu promosi jabatannya, yang ia perkirakan hanya memakan waktu 2 bulan. Ia pun mempercepat waktu hingga ke saat di mana ia naik jabatan.
Namun siapa sangka, ternyata promosinya membutuhkan waktu 1 tahun. Ia sendiri bahkan melewatkan saat-saat di mana ia mulai bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dengan istrinya dalam jangka 1 tahun tersebut.
Masalah ini belum usai, namun masalah baru pun muncul juga. Ternyata remote sakti yang dipegangnya memiliki fitur yang disebut auto-forward. Yaitu fitur yang memungkinkan remote tersebut memajukan waktu secara otomatis, di event-event tertentu yang sering diskip (dilewatkan) oleh Michael. Remote tersebut menganggap bahwa usaha Michael untuk men-skip masa-masa petengkaran dengan istrinya, masa-masa sakitnya, masa-masa di mana ia mengalami kemacetan saat hendak pergi ke kantor dengan mobil, dan masa-masa menjelang kenaikan jabatannya, adalah sebagai sebuah kebiasaan.
Jadi bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika Michael bertengkar dengan istrinya, mengalami sakit, terjebak macet saat hendak pergi ke kantor, atau akan dipromosikan jabatannya oleh sang bos?
Ya, tentu saja yang terjadi adalah bunyi beep...beep...beep...
Dan waktu pun dipercepat dengan sendirinya oleh sang remote.
Film Click, seperti yang sudah saya katakan tadi, merupakan film komedi fiksi yang cukup detil. Jika kita menjadi Michael pun pasti kita akan melakukan hal yang sama sepertinya.
Siapa di antara kita yang tidak ingin melewatkan masa-masa susah yang kita alami? Tentu tidak ada yang tidak ingin, bukan?
Dari film ini, kita (atau setidaknya saya) mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Bahwa masa-masa susah yang kita alami adalah bagian dari kehidupan. Janganlah kita berusaha lari apalagi sampai men-skipnya, seperti yang dilakukan Michael.
Sebab kondisi-kondisi sesulit apapun memang sudah dirancang oleh Tuhan untuk memperkuat fondasi kehidupan kita nantinya.
Satu lagi pelajaran berharga dari film ini. Keluarga lebih penting (atau setidaknya sama penting) daripada pekerjaan, seperti yang dikatakan oleh Michael di akhir-akhir film.
Untuk film ini saya memberi nilai 9,25/10. Mungkin jika pemeran utamanya Jim Carrey, bisa saya beri nilai 10/10.
Bagi yang belum sempat menyaksikan film ini, saya rekomendasikan anda untuk segera menontonnya.
Selamat menyaksikan Click dan selamat tertawa terbahak-bahak!
16 Agustus 2007
6 Besar Dalam Kacamata Saya
Dan di konser yang ke-9 ini, jutaan pemirsa di rumah dan penonton di Balai sarbini menjadi saksi tereksekusinya pasangan Nadia dan Mama Sofi.
Selain pasangan Nadia dan Mama Sofi, 2 pasangan lain yang juga masuk zona kritis adalah pasangan Ecca dan Mama Nita, dan pasangan Mytha dan Mama Ani.
Oke, langsung saja kita review satu-persatu penampilan para peserta!
Mytha (Lagu : Ku Tak Bisa / Nilai dari saya : 7,75 / Zona Kritis : Ya / Lolos : Ya)
Mytha tampil agak mengejutkan pada episode kali ini. Setelah selama ini dia selalu akrab dengan lagu jazz atau lagu-lagu yang diaransemen ulang dengan lebih jazzy, Mytha malah memilih untuk meng-aransemen lagu Ku Tak Bisa menjadi lebih berirama reggae.
Saya tidak bisa mengatakan eksperimen ini berhasil, karena di awal lagu saya cukup banyak mendengar nada-nada yang sedikit fals.
Eksekutor Ahmad Dhani bahkan sampai mengatakan penampilan Mytha kali ini adalah yang terburuk.
Meskipun begitu, dari segi vokal, kualitas Mytha memang tetap seperti biasanya. Memukau...!!
Hanya saja memang, kualitas vokal memukau apabila tidak ditunjang dengan pemilihan lagu yang tepat, maka yang terjadi adalah performa si penyanyi kurang bisa mempesonakan para penonton.
Ecca (Untuk Pertama Kali / 8 / Ya / Ya)
Penampilan Ecca sudah kembali seperti biasanya, cute...!!
Hal ini tercermin dari make-up dan busana yang dikenakannya. Sementara untuk lagu, kali ini dia tampil membawakan lagu lebih dewasa. Ya, memang tidak ada pilihan bagi pasangan Ecca dan Mama Nita, karena tema lagu untuk konser kali ini adalah lagu-lagu yang dibawakan oleh band.
Yang cukup mengagumkan dari penampilan Ecca, ia mampu membawakan lagu Untuk Pertama Kali sama bagusnya dengan penyanyi aslinya, Kerispatih.
Meskipun begitu, menurut saya Ecca tetap lebih cocok menyanyikan lagu-lagu remaja.
Margareth (Kejujuran Hati / 9,5 (penampilan ekstra) / Tidak / Ya)
Menurut saya, penampilan Margareth kali ini adalah yang terbaik dari seluruh penampilannya selama ini.
Lagu Kejujuran Hati yang dibawakan oleh Margareth kali ini, bahkan jauh lebih bagus dari yang dibawakan oleh penyanyi aslinya, Kerispatih.
Kualitas vokal yang menakjubkan dipadu dengan pemilihan lagu yang cocok, dan masih ditambah lagi aransemen yang brilian, menghasilkan sebuah perpaduan yang luar biasa. Enak untuk didengar....
Tidak perlu diragukan lagi, inilah kualitas seorang calon jawara Mamamia!
Nadia (Nirwana / 7 / Ya / Tidak)
Memang benar apa yang dikatakan oleh eksekutor Helmy Yahya. Selama ini memang Nadia belum terlihat memiliki ciri khas dari segi vokal. Suaranya memang merdu, tapi sepertinya kemerduan suaranya belum menemukan peak-nya. Hal ini banyak disebabkan oleh kesalahan dalam pemilihan lagu. Dan untuk kali ini, lagi-lagi Nadia salah pilih lagu. Sebab lagu Nirwana yang dibawakannya memang tidak akan dapat dinyanyikan secara merdu, seperti yang dikatakan oleh eksekutor Ahmad Dhani.
Di episode kali ini, seperti biasa, Nadia kembali merasakan panasnya ada di zona kritis. Namun tidak seperti biasanya, Nadia dan Mama Sofi harus "say goodbye", karena nilai 63 yang diperolehnya tidak cukup untuk menghindarkan diri dari eksekusi.
Ajeng (Hanya Ingin Kau Tahu / 8,25 / Tidak / Ya)
Rasa percaya diri Ajeng dalam bernyanyi di atas panggung semakin tumbuh. Dan hasilnya, Ajeng menemukan puncak penampilannya selama ini, di episode kali ini. Itulah komentar eksekutor Helmy Yahya terhadap penampilan Ajeng.
Saya rasa perkataan Helmy Yahya itu memang benar. Pemilihan lagu yang dibawakannya kali ini memang begitu pas dengan karakter vokal Ajeng. Busana yang dikenakan juga membuatnya tampil cantik.
Namun dari sisi-sisi positif yang menghiasi performa Ajeng kali ini, masih ada kritikan yang perlu diperhatikan untuk ke depannya. Menurut eksekutor Sophia Latjuba, Ajeng terlihat sedikit lebih gemuk malam itu. Nah, bagaimana itu Mama Cindy?
Fiersha (Aku Masih Sayang / 8,5 / Tidak / Ya)
Fiersha menepati janjinya minggu lalu, untuk lebih menampilkan koreo di atas panggung pada konser kali ini.
Dan hasilnya, keceriaan di bangku juri vote lock, eksekutor, dan bangku para suporter pun menyeruak ke seantero Balai Sarbini.
Sangat menghibur...
Itulah satu-satunya yang saya bisa katakan.
Dari segi vokal, Fiersha tetap bagus seperti biasanya. Sementara dari segi busana, balutan warna ungu pada busana Fiersha menjadikannya tampil cantik malam itu, dan kelihatan sedikit berbeda dari biasanya.
Football Manager
Namanya Football manager...
Pasti mendengar namanya aja, banyak yang udah pada tau game seperti apa ini. Game yang keren, cool, game yang nggak pernah tamat, dan emang agak sedikit nge-bosenin juga.
Tapi pernah ada yg nyangka ngga? Temenku semasa SMA, pernah ngeramal seorang Arjen Robben bakal melejit hanya dengan ngeliat FM (waktu itu namanya masih CM)....
Dan sekarang, fakta memang membuktikan kalo Arjen Robben emang udah melejit. Awalnya aku ngga percaya, kata temenku itu tadi, kalo statistik di CM dan FM dibuat sedemikian rupa menyerupai statistik asli pemainnya. Ah masa iya sih...!!??
Tapi kalo kuliat-liat lagi emang iya sih!
Selain Arjen Robben, ada nama lain juga yang udah diramal melalui FM bakal melejit, dan sekarang memang sudah melejit. Micah Richard namanya.
Aku pernah memanage Milan (di FM 2007), dan tau nggak, aku mesti ngeluarin uang 36,5 juta pound hanya untuk membuatnya jadi bagian penting di klubku. Wahahaha...!!!
Momen itu paling membuatku bangga. Karena jarang-jarang lho bisa dapetin Richard, meskipun akus sering main FM.
Berdasar pengalaman, aku emang udah berasumsi bahwa statistik di FM itu riil, paling nggak mendekatilah...
Nah, dari sini aku mau coba membuat dikit ramalan siapa aja bintang di masa depan.
Eduardo da Silva
Pemain yang baru dibeli Arsenal ini, yang paling terdepan untuk menuju kesuksesan.
Gimana nggak, saat kompetisi liga Inggris udah dimulai, Arsenal masih mengklaim Eduardo sebagai pembelian emas mereka. Itu berarti Arsenal udah nganggep Eduardo bisa ngisi kekosongan di depan sepeninggal "sang dewa" Henry.
Meskipun di laga perdana ngga nyetak gol, sepak terjangnya di musim ini masih patut kita cermati.
Micah Richard
Jauh sebelum manager Chelsea, Jose Mourinho, ngumumin dia kepincut Richard dan pengen ngeboyong ke Stamford Bridge pada second transfer window Januari lalu, aku udah duluan nemuin Richard sebagai pemain "emas" Inggris di masa depan.
Bisa main di posisi bek tengah dan kanan, emang jadi keistimewaan pemain ini.
Di FM pun, aku mesti ngeluarin dana segar 36 juta pound ke atas, biar tawaranku diterima City.
Sayang emang, Richard gagal ke Stamford Bridge gara-gara sang bos, Mr Roman Abramovich, pelit buat ngeluarin duit.
Kalo enggak, maka kita udah bisa jadi saksi sepak terjang si "anak emas" The Citizen ini sejak pertengahan musim lalu.
Daniel Carvalho
Salah satu pemain favorit saya di FM...
Posisinya di CSKA Moskow sebagai playmaker, bermain di belakang dua penyerang utama, Vagner Love dan Ivica Olic. Begitu kita nyebut negara asalnya, pasti kita udah bisa mbayangin kualitasnya. Yap, Brazil....!!!
Didier Digard
Sekarang bermain di PSG, setelah musim lalu main di Le Havre. Di FM 2007, anda bisa beli pemain ini dengan harga cukup murah lho..!!! Asal anda belinya di musim-musim awal.
Posisinya sebagai bek tengah. Tapi bisa juga di barisan gelandang, sebagai gelandang bertahan.
Selain nama-nama di atas, sebenarnya masih banyak banget nama-nama lain yang "antri" buat jadi ngetop. Nama-nama itu akan kupost di update selanjutnya. So....tunggu aja yach!
(To be Continued)
13 Agustus 2007
7 Besar Dalam Kacamata Saya
Mamamia Show babak 7 besar kali ini kembali dilangsungkan di Balai Sarbini, setelah minggu lalu sempat dilangsungkan di Britama Sport Mall Kelapa Gading.
Tanpa banyak berbasa-basi lagi, saya akan mereview satu-persatu penampilan mereka. Ini dia...
Fiersha
Fiersha, untuk pertama kali dari sepanjang konser Mamamia Show yang sudah berlangsung, mendapat kesempatan untuk menggoyang Balai Sarbini sebagai penampil pertama. Setelah minggu lalu sempat "membuat kejutan" dengan berusaha menampilkan sedikit koreo di atas panggung, kali ini Fiersha kembali ke kebiasaan lama. Dengan lagu Tanpa Kekasihku, yang beraliran slow, Fiersha kembali mempertontonkan gaya monotonnya, diam, standstill di atas panggung. Terus terang saya sedikit kecewa karena dengan lagu slow yang dibawakannya, ia (mau tidak mau) kembali memilih bernyanyi tanpa koreo.
Ahmad Dani bahkan sempat berpesan pada Fiersha, agar ia membawakan lagu yang lebih gembira minggu depan. Tentu saja Ahmad Dani sama seperti saya, ingin melihat Fiersha bergoyang di atas panggung.
Terlepas dari stage actingnya yang monoton itu, kualitas vokal Fiersha semakin terasah dan berkualitas saja.
Maklum, lagu-lagu slow memang sudah menjadi "makanannya" sehari-hari.
Ribka
Ini dia! Penampil yang sudah saya tunggu-tunggu dari awal. Menarik memang untuk menyimak sepak terjang Ribka kali ini, apakah dia mampu kembali bangkit dari kondisi terpuruknya minggu lalu.
Seperti yang sudah saya ramalkan memang, bahwa sepertinya kejadian minggu lalu akan sangat sulit dilupakan dan akan masih terbawa sampai minggu ini. Dan ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada performancenya di atas panggung.
Pemilihan lagu Mahadaya Cinta yang dinyanyikan Ribka kali ini, saya anggap sebagai sebuah "bom bunuh diri", mengantarkannya tidak hanya ke zona kritis, tapi juga ke zona eksekusi.
Kemampuan vokal Ribka yang powerfull, sama sekali tidak terlihat dengan lagu Mahadaya Cinta.
Pun, busana yang dikenakan Ribka kali ini semakin tidak jelas saja konsepnya.
Tidak seperti biasanya, "sang macan" Mama Nanie tidak banyak memberi tanggapan atas komentar para eksekutor. Dia lebih banyak diam, pasrah, dan menerima kritikan-kritikan dari para eksekutor daripada mengomentari balik kritikan-kritikan itu. Memang begitulah seharusnya!
Nadia
Penampilan Nadia mulai membaik dari minggu lalu. Untuk kali ini, Mama Sofi, kembali memilihkan lagu yang slow, yakni Masih Ada. Yap...memang dengan lagu slow, kemampuan vokal Nadia bisa lebih dimaksimalkan, terutama vibra yang menjadi khasnya.
Busana dan style rambut baru-nya benar-benar satu kepaduan yang sangat pas. Sangat enak dilihat!
Tapi, sudah menjadi ciri khas Mama Sofi, selalu saja ada tambahan-tambahan di atas pangung yang menurut saya berlebihan.
Ingat, ini panggung menyanyi! Bukan panggung drama!
Ecca
Entah karena takut jika penonton merasa bosan, atau karena ingin membuat surprise, sehingga Mama Nita lebih memilih untuk lebih mendewasakan Ecca melalui busana yang dikenakannya.
Busana yang dikenakan Ecca kali ini tidak seperti biasanya. Dengan kemeja warna merah dan dihiasi oleh dasi berwarna emas, Ecca sudah seperti eksekutif muda saja.
Dari segi pemilihan lagu juga saya nilai kurang tepat. Lagu Sahabat milik Audy yang dibawakan Ecca kali ini, sempat membuat saya khawatir. Maklum saja, di lagu ini ada nada rendah yang sepertinya kurang bisa dikuasai Ecca dengan baik.
Nah, walaupun penampilan Ecca menurun minggu ini, tapi setidaknya masih ada satu hal positifnya. Di atas panggung, Mama Nita mampu menghadirkan suasana persahabatan (sesuai dengan tema lagu) dengan menghadirkan para gadis-gadis yang terlihat sedang berkumpul-kumpul dan saling bercengkrama dengan teman-temannya. Yang membuat saya semakin suka lagi, para gadis-gadis ini berkumpul membentuk formasi lingkaran sehingga kesan persahabatan-nya semakin kentara sekali. Brilian Mama Nita!
Mytha
Mytha kembali menerima penghargaan putri berpenampilan ekstra, untuk kedua kalinya. Dan kali ini, pilihan eksekutor sama dengan pilihan saya.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari penampilan Mytha kali ini. Suaranya tetap bagus seeprti biasanya. Begitupun dari segi busana yang dikenakannya. Lagu Bintang-bintang yang dibawakannya kali ini pas dengan vokalnya, terlebih lagi karena lagu ini sudah diaransemen ulang dengan tempo yang diperlambat.
Saya, dan mungkin juga para eksekutor, memilih Mytha sebagai best performer karena penampilannya lebih stabil jika dibandingkan dengan peserta lainnya yang banyak mengalami penurunan.
Margareth
Entah apa yang ada di benak Margareth dan Mama Saidah dalam mempersiapkan penampilannya kali ini...
Mungkin karena sudah yakin bakal lolos ke babak 6 besar, mereka jadi lebih berani bereksperimen dengan mencoba lagu yang memiliki beat cepat, yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Sebuah eksperimen yang menurut saya gagal, karena dengan lagu I Love You yang dibawakan kali ini tidak mampu memaksimalkan kualitas vokal Margareth.
Tapi setidaknya masih ada satu hiburan yang bisa kita ambil dari penampilan Margareth kali ini, yaitu busana millenium dan koreo yang sangat pas dengan lagunya.
Saya suka sekali dengan gerakan patah-patah yang diperagakan Margareth di awal lagu. Mantap bung...!!
Ajeng
Rasa percaya diri Ajeng sudah kembali tumbuh di penampilannya kali ini. Hal ini tentu saja patut diwaspadai oleh para peserta lain.
Sayangnya, pasangan Ajeng dan Mama Cindy kurang hati-hati dalam memilih lagu. Walhasil, lagu Yakin milik Radja tidak dapat mengeluarkan kualitas maksimal dari vokalnya. Meskipun begitu, Ajeng terlihat nyaman menyanyikan lagu tersebut. Hal ini dapat terlihat dari caranya berkomunikasi dengan audience, dengan mengajak para penonton bernyanyi bersama dengannya.
Penampilannya yang lepas seperti ini, bisa menjadi modal bagi Ajeng dalam perjalanannya menuju ke babak selanjutnya.
Statistik penampilan mereka :
Format :
Nama Kontestan
Lagu yang Dibawakan
Nilai dari Saya
Zona Kritis
Nilai dari Juri Vote Lock
Fiersha
Tanpa Kekasihku
8 / 10
Tidak
-
Ribka
Mahadaya Cinta
6 / 10
Ya
46 (Tereksekusi)
Nadia
Masih Ada
8 / 10
Ya
63
Ecca
Sahabat
7 / 10
Ya
76
Mytha
Bintang-bintang
8 / 10 (putri berpenampilan ekstra)
Tidak
-
Margareth
I Love You
7 / 10
Tidak
-
Ajeng
Yakin
7 / 10
Tidak
-
Chelsea Dalam Analisa ---Community Shield---
Namun partai kali ini menjadi terasa kurang menggigit karena absennya beberapa nama seperti John Terry, Didier Drogba, Andriy Shevchenko, dan Owen Hargreaves.
Baik Jose Mourinho maupun Alex Ferguson nampaknya tidak mau mengambil resiko sehingga menurunkan formasi bayangan di babak pertama.
Chelsea yang menggunakan pakem 4-3-3, menurunkan Peter Cech, Glen Johnson, Ricardo Carvalho, Tal Ben Haim, Ashley Cole, Michael Essien, Frank lampard, John Obi Mikel, Florent Malouda, Joe Cole, dan Shaun Wright Phillips.
Sedangkan Manchester United yang turun dengan pakem 4-4-2, diperkuat oleh Edwin van Der Sar, Patrice Evra, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, Wes Brown, Silvestre, Ryan Giggs, John O'Shea, Michael Carrick, Christiano Ronaldo, dan Wayne Rooney.
Absennya beberapa pilar kedua tim seperti John Terry, Didier Drogba, Sheva, dan Owen Hargreaves cukup berpengaruh pada permainan kedua tim, terutama Chelsea yang banyak kehilangan pilarnya.
MU sempat memimpin terlebih dahulu pada pertengahan babak pertama setelah crossing Evra dari sisi kanan pertahanan Chelsea berhasil diselesaikan dengan jitu oleh kaptrn tim Ryan Giggs.
Namun Chelsea berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di penghujung babak pertama, setelah aksi individu pemain anyarnya, Florent Malouda, yang berhasil mengecoh Rio Ferdinand untuk kemudian melepaskan tendangan yang tidak mampu dijangkau oleh Edwin van Der Sar.
Di babak kedua, baik Chelsea maupun Manchester United saling menyerang untuk bisa mengungguli lawannya. Namun hingga peluit tanda berakhirnya babak kedua dibunyikan, skor tetap tidak berubah 1-1.
Peraturan Community Shield tidak mengenal extra time. Sehingga pertandingan pun berlanjutan ke babak adu pinalti. Tiga penendang Chelsea, Claudio Pizzaro, Frank Lampard, dan Shaun Wright Phillips gagal menunaikan tugasnya, setelah tendangan mereka seluruhnya berhasil diblok oleh penjaga gawang Edwin van Der Sar.
Sementara tiga penendang MU, Rio Ferdinand, Michael Carrick, dan Wayne Rooney berhasil menjalankan tugasnya sebagai eksekutor pinalti, untuk memastikan gelar pertama Manchester United di musim ini.
Bagi manager Chelsea, Jose Mourinho, kekalahan ini memang menyesakkan. Namun ia tampak tidak telalu kecewa karena baginya gelar Premiership, Liga Champion, FA, atau League Cup lebih penting dari sekedar Community Shield.
Partai ini bagi Mourinho sepertinya hanya dijadikan sebagai ajang uji coba untuk melihat kepaduan antara pemain utama dengan pemain pelapis mereka. Tidak heran bila pemain-pemain pilar mereka macam Frank Lampard, Ricardo Carvalho, dan Michael Essien dipadu dengan pemain-pemain lapis kedua macam Glen Johnson, Joe Cole, Sinclair, dan Tal Ben Haim.
Meski tidak diperkuat oleh seluruh pemain pilarnya, Chelsea tetap tampil ciamik.
Saya menilai penampilan kedua penyerang sayap mereka, Florent Malouda dan Shaun Wright Phillips, sebagai kunci permainan the Blues kali ini.
Kecepatan dan skill individu kedua pemain ini terbukti mampu merepotkan barisan pertahanan Manchester United yang digalang bek timnas Inggris, Rio Ferdinand.
Untuk musim ini, saya berkeyakinan kuat Chelsea dapat kembali merengkuh titel Premiership yang berhasil dicuri oleh Manchester United musim lalu.
Kakuatan Chelsea yang sudah berlimpah musim lalu, masih ditambah lagi dengan kehadiran Steve Sidwel, Claudio Pizzaro, Florent Malouda, dan Tal Ben Haim musim ini.
Jose Mourinho pun masih tetap berada di balik layar, sebagai arsitek tim sekaligus motivator.
Dengan kondisi yang demikian, tidak ada alasan lagi bagi John Terry dkk. untuk gagal di musim ini.
Bravo Chelski!
PSIS Dalam Analisa ---PSIS vs Sriwijaya---
Namun hal itu tidak menyurutkan semangat Julio Lopez dkk. untuk memberikan perlawanan kepada tamunya.
Seperti biasa, Sriwijaya selalu dapat menunjukkan performa apiknya, meski mereka bermain di kandang lawan. Umpan-umpan serta sentuhan-sentuhan yang dikombinasikan dengan kecepatan trio Zah Rahan, Lenglolo, dan Kith Kayamba membuat PSIS Semarang begitu kesulitan membendung serangan-serangan mereka. Beruntung saja kiper I Komang Putra tampil cukup baik pada pertandingan kali ini, walau harus rela gawangnya dibobol dua kali.
Sriwijaya tampil dominan pada babak pertama. Possesion 55% berbanding 45% untuk Sriwijaya serta total shots 6 berbanding 3 untuk Sriwijaya pada babak petama menjadi bukti nyata.
Meskipun begitu, Sriwijaya sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Hari Salisburi. Beruntung akhirnya mereka mampu menyamakan kedudukan tidak lama setelah itu, lewat sundulan Zah Rahan memanffatkan crossing Kith Kayamba.
Di awal babak kedua lagi-lagi PSIS memimpin 2-1, kali ini lewat tendangan penalti Julio Lopez. Hukuman penalti diberikan oleh wasit Jimmy Napitupulu setelah Julio Lopez dijatuhkan oleh pemain belakang Sriwijaya di daerah terlarang.
Namun lagi-lagi, skor mampu disamakan oleh Sriwijaya menjadi 2-2. Berawal dari sebuah serangan dari sayap kanan, Kith Kayamba berhasil menyelesaikan crossing cantik dari rekannya dengan sebuah tendangan terarah ke gawang IKP.
Skor imbang 2-2 akhirnya bertahan hingga babak kedua usai.
Pelatih PSIS, Bonggo Pribadi, kali ini menurunkan formasi yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya mengandalkan pakem 3-5-2, di mana Lopez dan Khusnul jadi tumpuan di depan, kali ini formasi 4-4-2 yang dipilihnya. Khusnul bermain di sayap kanan, sementara di depan Lopez berduet dengan Indriyanto Nugroho. DI tengah ada duet Joao Carlos sebagai playmaker dan Kahudi sebagai jangkar. Sementara di belakang, Maman dan Zoubairou bertindak sebagai center back.
Baik di line-up maupun di bench, tidak terdapat tiga nama pemain baru mereka, Didier Koutozi, Igor Joksimovic, dan Marthen Tao.
Koutozi dan Joksimovic kabarnya belum disahkan oleh BLI, sementara Marthen Tao masih berjuang memulihkan cederanya.
Meskipun begitu, permainan PSIS seharusnya tetap dapat menjanjikan.
Ridwan yang selama ini baik di timnas maupun di klubnya dikenal sebagai pemain yang rajin melakukan akselerasi ke depan, tidak terlihat aksinya malam itu.
Bagitu pula Joao Carlos, belum dapat mempertotonkan skill ciamiknya dengan sempurna.
PSIS meski sudah berganti formasi, cara bermainnya masih sama seperti dulu. Lebih senang mengalirkan bola langsung dari belakang ke depan. Yang dituju pasti Julio Lopez. Sriwijaya sendiri sepertinya sudah mengantisipasi cara main mereka. Wajar saja kalau serangan PSIS sering kandas.
Koordinasi di belakang juga belum sempurna. Dua gol Sriwijaya, menurut saya murni kesalahan pemain belakang. Dan gol kedua Sriwijaya oleh Kith Kayamba, menjadi klimaks penampilan buruk barisan pertahanan PSIS yang digalang oleh Maman Abdurrahman.
Bagaimana mungkin bola crossing bisa melaju dengan begitu mulus menuju langsung ke Kith Kayamba tanpa ada satupun pemain belakang PSIS yang berusaha memotong?
Para pendukung PSIS memang patut kecewa. Dua kali keunggulang disia-siakan begitu saja oleh keteledoran barisan pertahanan mereka.
Untuk ke depannya, saya harapkan agar para pemain PSIS lebih memfokuskan latihan-latihan mereka kepada permainan taktis dengan satu dua sentuhan dari kaki ke kaki. Tinggalkan kebiasaan lama yang masih suka memberikan umpan panjang ke arah Lopez atau pemain depan lainnya.
Sementara untuk barisan pertahanan, sepertinya perlu ditingkatkan lagi masalah speed. Pada partai kemarin terlihat jelas bagaimana Maman Abdrurrahman tidak mampu mengimbangi kecepatan lari para penyerang-penyerang Sriwijaya.
Selain itu benahi pula koordinasi di belakang. Rajin-rajinlah untuk kembali ke pos masing-masing apabila kehilangan bola.
Pesan saya untuk tim PSIS :
Tetaplah jaga kekompakkan tim dan tetaplah semangat!
Ingat, warga Semarang selalu berada di belakangmu!
Resensi Software : Game Maker
Lebih mengeutkan lagi, ternyata tidak hanya game yang bisa anda buat, tapi juga program alias software. Software pembuat software? Hmm....menarik bukan?
Masalah utama yang membuat seseorang malas membuat game adalah anggapan bahwa membuat game itu sulit, dengan diperlukannya penguasaan bahasa program secara advance.
Tapi semua itu bisa diatasi di sini. Karena Game Maker menyediakan fasilitas help content, yang menurut saya begitu detil dalam menjelaskan cara-cara serta fungsi-fungsi yang ada di dalam Game Maker ini.
Bagi anda yang masih buta sama sekali soal game making, dengan membaca help-nya saya yakin anda akan langsung mengerti.
Sistem yang dipakai di Game Maker kebanyakan adalah drag and drop. Sangat simpel dan mudah.
Ada juga sistim scripting, tapi semua command-command scriptnya dapat anda temukan di help-nya. Juga beserta penjelasan efek-efek serta kapan command-command tersebut harus digunakan.
Software ini mendukung format .wav .mp3 dan .mid untuk audio, dan banyak sekali format-format picture seperti .bmp .jpg .gif .wmf .ico
Game Maker terdiri dari unregistered version dan registered version. Beberapa fitur akan dihilangkan di versi unregistered-nya dan game yang anda buat dengan versi ini akan memiliki logo game maker yang ditampilkan pada screen-screen awal.
Sementara anda akan mendapat akses dari semua fitur-fitur yang tersedia serta di game anda tidak lagi terdapat logo game maker, jika anda mempergunakan versi registered-nya.
Software canggih ini dapat anda download melalui situs www.gamemaker.nl
Review Software : WinMusic Jukebox
Saya perkenalkan sebuah software yang juga berfungsi sebagai audio player, namanya WinMusic Jukebox. Sama seperti Winamp, WinMusic Jukebox tidak hanya sanggup memutar audio tapi juga sanggup memutar video.
Format audio yang dapat diputar melalui software ini di antaranya .mid .wav .MP3
Sementara format video yang dapat diputar, yakni AVI, MOV, MPG, aif
Bagi yang memiliki Audio CD, anda tidak perlu khawatir. WinMusic Jukebox juga sanggup memainkan musik yang ada di dalamnya.
Keistimewaan dari player ini adalah fiturnya yang dapat mempercepat dan memperlambat tempo lagu yang dimainkan.
Sehingga sangat cocok dengan anda yang ingin mencatat syair dari lagu yang sedang dimainkan.
Di sini terdapat juga fitur auto loop sehingga lagu tersebut dapat dimainkan terus menerus, dan ada juga fitur Random Play yang membuat lagu akan dimainkan secara random dari playlist anda.
Anda dapat memiliki trial version dari software ini dengan mensearch dan mendownload melalui situs www.download.com
Resensi Software : Advance CD Ripper Pro
Ya, itu adalah sebuah format audio yang dianggap mewakili kualitas paling baik. Tapi ukuran file yang berakhiran dengan format tersebut bisa dikatakan cukcup besar. Apalagi apabila durasi dari audio yang ada di dalamnya cukup lama. Bagi anda yang menyukai musik tentu tidak menginginkan format lagu kesayangan anda berakhiran dengan .wav. Karena itu akan memakan tempat di hardisk anda. Lalu bagaimana apabila lagu atau musik kesayangan anda diperoleh dengan cara merekam dari film atau video?
Sebab jarang atau bahkan tidak ada recorder yang mampu menghasilkan output berupa format selain .wav.
Jika itu yang terjadi, maka anda tidak perlu khawatir. Saat ini sudah banyak software-software converter yang mampu meng-convert file berformat .wav ke format lain.
Salah satunya, yang ingin saya perkenalkan adalah Advance CD Ripper Pro. Advance CD Ripper Pro memmiliki beberapa fasilitas yang memungkinkan anda untuk meng-convert file .wav ke format lain seperti MP3, WMA, OGG, dan APE.
Selain itu Advance CD Ripper Pro juga dapat mengekstrak file-file yang ada di audio cd sekaligus mengconvertnya ke dalam format MP#, WMA, OGG, dan APE.Dan ternyata, tidak hanya audio dalam bentuk CD yang dapat diconvert, tapi juga audio yang tersimpan di dalam DVD.
Advance CD Ripper Pro mempergunakan encoder LAME versi 3.9.31, yang menjamin kualitas dari file hasil convert.
Salah satu fitur yang ada di software ini juga memungkinkan kita memutar lagu dari Audio CD dan memberi kebebasan untuk meng-edit tag dari lagu tersebut.
Advance CD Ripper Pro terdiri dari dua versi, yakni unregistered version dan registered version.
Advance CD Ripper Pro dapat didownload melalui site : www.mp3do.comNah, anda tertarik untuk mencobanya?
30 Juli 2007
Review
Pada hari Selasa (24/7) kemarin, Mamamia Show memasuki edisi ke-5 nya. Tidak banyak kejutan yang terjadi di episode ini. Sebab, saya sudah meramalkan dari awal bahwa yang akan tereksekusi adalah Anti. Satu-satunya yang cukup mengejutkan saya di mamamia show kali ini adalah penampilan "aneh" Ajeng yang mendorongnya masuk zona kritis. Sedangkan kehadiran Anti dan Ecca di zona kritis tidak mengejutkan saya karena sesuai dengan yang saya ramalkan dari awal. Satu kontestan lain yang juga saya ramalkan masuk zona kritis, Nadia, malam itu selamat dari tiga terbawah.
Mytha
Penampilan ke-9 kontestan yang tampil malam hari itu, secara keseluruhan cukup baik. Mytha yang tampil pertama tetap stabil dengan kualitas vokalnya yang memukau. Lagu Inikah CInta yang dibawakannya semakin tambah enak didengar karena sudah diaransemen ulang dengan tempo yang lebih slow. Sang mama rupanya cukup pintar untuk mengetahui bahwa lagu-lagu dengan tempo demikian adalah "makanan empuk" bagi Mytha. Kostum dan rambut barunya pun tidak kalah memukaunya. Dengan vokal yang merdu dan penampilannya yang cantik malam itu, Mytha serasa ingin unjuk diri. Inilah Mytha sang calon Diva, calon jawara Mamamia!!
Satu hal yang perlu dicatat pada penampilannya kemarin adalah stage actnya. Ada penari latar yang seolah-olah sedang bercanda-canda dengannya dan yang lebih mengejutkan lagi ada seseorang yang sedang bermain basket di panggung. Menurut mamanya, dikisahkan bahwa Mytha sedang jatuh cinta dengan seorang pemain basket. Yang menjadi pertanyaan saya sekarang adalah perlukah drama/skenario yang seperti itu dihadirkan di atas pentas ketika seseorang sedang menyanyi?
Sama seperti pada episode-episode sebelumnya, kualitas vokal Mytha yang stabil dan khas mengantarkannya ke 8 besar dengan mudah.
Ratu
Ratu yang tampil kedua pun tidak mau kalah dari Mytha. Lagi-lagi sebuah lagu yang diaransemen ulang dengan tempo yang lebih slow. Lagu yang dibawakannya kali ini adalah Aku Cinta Padamu. Performanya kali ini juga cukup cantik. Namun sejujurnya, saya lebih senang ketika Ratu membawakan lagu Lilin-lilin Kecil pada beberapa episode yang lalu. Saya melihat penghayatan Ratu lebih "dapet" jika dibandingkan dengan performanya pada edisi ke-5 kali ini. Seperti pada performancenya ketika membawa lagu Lilin-Lilin Kecil, kali ini dia kembali tidak memakai penari latar, sehingga pandangan penonton bisa fokus sepenuhnya ke arah penyanyi.
Berkat lagu Aku Cinta Padamu yang dibawakannya, kualitas vokal Ratu dapat seutuhnya tergali dan tereksplor. Dengan modal vibra yang khas, Ratu lolos dengan mudah ke babak 8 besar
Ecca
Penampil ketiga adalah Ecca. Performa kedua kontestan yang sudah lebih dahulu tampil seharusnya membuat Ecca gugup. Tapi kita kenal siapa dia. Dia adalah Ecca yang polos dan lugu. Dia sama sekali tidak gentar menghadapi kekuatan lagu-lagu slow yang dibawakan oleh Mytha dan Ratu sebelumnya. Malah dia membuktikan bahwa lagu-lagu dengan irama riang dan ceria ternyata bisa juga memukau penonton, tentunya dengan cara yang berbeda. Secara individu kualitas vokal Ecca, yang membawakan lagu Doo Bee Doo, memang berada di bawah Mytha. Tapi dia memiliki "senjata" lain dalam bernyanyi, yaitu kepolosan dan keluguan seorang gadis yang beranjak tumbuh dewasa. Apalagi komunikasinya dengan audience pada malam itu adalah yang paling baik di antara kontestan lainnya. Foto-foto masa kecil Ecca yang ditampil pada slide di layar saat ia sedang bernyanyi, seolah menjadi kekuatan utama penampilan Ecca malam itu. Sophie sebagai dewan eksekutor pun tidak sanggup berkomentar karenanya.
Saya melihat mama Nita sebagai manajer Ecca sangat cerdik. Ia paham benar akan kondisi persaingan di mamamia show semakin sengit, terutama dari segi vokal. Maka perlu baginya untuk mensiasati agar putrinya memiliki nilai lebih dari segi yang lain. Dan saat sang mama mulai menemukan bahwa kepolosan dalam bernyanyi adalah senjata yang tepat, maka potensi Ecca yang satu ini terus dimunculkan dari episode ke episode. Meskipun pada malam hari itu senjata tersebut kurang berhasil bagi dewan eksekutor (Ecca masuk zona kritis), tapi berhasil bagi dewan juri vote lock. Buktinya nilai Ecca yang tertinggi di antara 2 "zoner kritis" lainnya.
Fiersha
Penampilan ke-empat. Saatnya sang bintang keluar dari panggung. Siapa lagi kalau bukan Fiersha sang bintang panggung. Lagu Air Mata Ibu pun mengalir dengan merdunya. Secara vokal, Fiersha tetap mampu memanjakan penonton di Balai Sarbini dan pemirsa di rumah. Namun stage act-nya pada malam hari itu, yang (lagi-lagi) cukup mengganggu bagi saya. Dengan adanya sang mama di atas pentas, penampil ke-empat kali ini ingin menyuguhkan keharuan perjuangan seorang mama membesarkan putrinya, dengan iringan air mata sang mama yang entah asli atau tidak. Overactingkah? (maaf bagi pendukung Fiersha, ini hanya opini saya semata)
Kostum yang dikenakan Fiersha kali ini agak lain dengan biasanya. Ditambah lagi dengan kacamata hitamnya mengingatkan kita pada sosok penyanyi tuna netra, Ramona Purba.
Keunggulan Fiersha dalam hal kestabilan vokal membuat penampilannya stabil dari episode ke episode. Dan pada episode kali inipun dia kembali tidak melakukan kesalahan. Tiket ke babak selanjutnyapun didapatnya secara mudah.
Nadia
Nadia tampaknya telah mulai belajar dari pengalaman dua episode terdahulu, di mana dia selalu masuk zona kritis. Terbukti dengan penampilannya kali ini yang mulai membaik. Zona kritis pun berhasil dilewatinya kali ini. Episode minggu lalu, Nadia mengusung Harajuku sebagai tema kostumnya. Pada penampilannya kali ini, dia kembali mengusung tema Jepang pada kostumnya, meskipun pada episode minggu lalu dia mendapat kritikan dari eksekutor. Tapi yang berbeda dari minggu lalu, Nadia memakai kostum tradisional Jepang, kimono. Sebuah kreatifitas yang patut diacungi jempol. Padahal, lagu Galau yang dibawakannya sama sekali tidak berhubungan dengan Jepang. Eksekutor Dani Ahmad menyatakan bahwa ini penampilan terbaik Nadia dari yang sudah-sudah. Keberhasilan Nadia masuk ke babak selanjutnya terasa melegakan, mengingat dia tidak sedang dalam kondisi fisik yang fit. Namun keadaanya yang demikian malah membuatnya seolah-olah perform 200 persen.
Anti
Anti dan Sakuranya adalah partisipan yang kurang beruntung pada malam itu. Lagu Sakura sebenarnya sudah dibawakannya dengan baik. Namun jika dibandingkan dengan partisipan-partisipan yang lain penampilan Anti cenderung biasa-biasa saja. Kostum yang dikenakannyapun agak aneh. Dari leher ke atas, mama Ella ingin mengusung tema Jepang. Namun lucunya pakaian salsa yang dikenakannya sama sekali tidak matching. Hal ini mendapat perhatian khusus dari eksekutor Arzetti yang memberi kritikan atas kostum Anti. Hiasan di kepala yang dikenakannyapun di mata saya terasa kurang sedap dipandang.
Seperti yang sudah saya perkirakan, Anti tidak punya sesuatu yang bisa ia jual lebih daripada kontestan yang lain. Dari segi vokal, jika ingin bersaing dengan Mytha, Fiersha, Ajeng dan Margareth, sejujurnya saya katakan Anti tidak punya kemampuan untuk itu. Bahkan menurut pendapat saya, vokal Anti masih kalah dibanding dengan Ratu. Lalu dari segi act, dia tidak memiliki potensi untuk bisa bersaing dengan keluguan dan kepolosan seorang Ecca atau keenerjikan seorang Ribka.
Meskipun gagal maju ke 8 besar, namun Anti dan pendukungnya tidak perlu kecewa. Kalah menang itu sudah biasa dalam sebuah kompetisi. Keberhasilannya sampai sejauh inipun menurut saya sudah layak mendapat acungan jempol.
Margareth
Menurut Eksekutor, penampilan Margareth kali ini adalah yang terbaik dari kontestan-kontestan yang lain. Lagu yang dibawakannya adalah lagu ciptaan salah satu eksekutor, Ahmad Dani, dan dipopulerkan oleh Agnes Monica. Saya melihat penampilan Margareth sedikit berbeda kali ini. Margareth selama ini saya kenal sebagai "the next Siti Nurhaliza" karena vokalnya mirip diva asal negeri Jiran tersebut. Tapi pada malam itu, suara "Siti Nurhaliza"-nya seolah tidak keluar. Mungkin saja karena ia bernyanyi dengan meniru gaya penyanyi aslinya, Agnes Monica. Tapi kelebihan Margareth yang lain, yakni dalam hal improvsiasi lagu, kembali dia tampilkan. Bahkan improvisasinya kali ini mendapat pujian khusus dari sang pencipta lagu, Ahmad Dani. Selain mendapat pujian, dia juga mendapat tiket ke babak 8 besar. Selamat buat Margareth!
Ajeng
Surprising Ajeng! Ajeng yang mengejutkan! Itulah pernyataan yang tepat untuk menggambarkan penampilan Ajeng di konser Mamamia Show kali ini. Ajeng yang selama ini saya kenal bernyanyi dengan gaya dan vokal ala Ruth Sahanaya, seolah-olah ingin tampil beda kali ini. Bukan hanya itu saja, Ajeng juga untuk pertama kali mengeluarkan nada "mengambang", di awal-awal lagu Pergi Untuk Kembali yang dibawakannya.
Perubahan pada cara bernyanyi dan pemilihan lagu menjadi bahan pertanyaan para eksekutor, dan juga saya. Apakah Ajeng akan seperti ini seterusnya?
"Uji coba" Ajeng kali ini sungguh-sungguh menjadi bumerang, karena bukan hanya memaksa "si hitam manis" ini masuk ke zona kritis untuk pertama kali, namun juga sekaligus menggugurkan anggapan saya bahwa Ajeng adalah salah satu dari "The Big Four" yang "untouchable", tidak tersentuh, tidak mungkin masuk zona kritis paling tidak sampai babak 4 besar nanti. Meski masuk zona kritis, namun dewan juri vote lock sepertinya masih memberi kesempatan bagi Ajeng untuk tampil dan memeperbaiki diri di babak selanjutnya. Angka enam-enam yang didapat dari juri vote lock, menunjukkan bahwa 66% juri masih menginginkan Ajeng bertahan di pentas Mamamia Show.
Mudah-mudahan Ajeng dapat merubah penampilannya dan bisa lebih baik di episode selanjutnya.
Ribka
Kalau Margareth adalah best performer pilihan para eksekutor, maka Ribka adalah best performer pilihan saya. Saya memilih Ribka sebagai best performer tentu bukan tanpa alasan. Kontestan yang gaya dan vokalnya mirip Agnes Monica ini, menurut saya adalah performer yang paling mampu menyihir seluruh Balai Sarbini dengan penampilannya. Lagu Cinta Putih yang ia bawakan malam itu, benar-benar dihayatinya dengan baik. Kemampuan vokal dan powernya menurut saya sangat cocok dengan "roh" dari lagu tersebut.
Balutan gaun putih yang dikenakan Ribka malam itu membuat dirinya terlihat sangat anggun dan menawan.
Saya akui inilah penampilan terbaik Ribka selama pentas Mamamia Show. Penampilan yang sekaligus mengantarkannya lolos ke babak delapan besar.
Resensi
Dewasa ini begitu banyak tayangan-tayangan ajang adu bakat menyanyi di televisi. Sebut saja Indonesian Idol di RCTI, KDI di TPI, Pop vs Dangdut di Lativi, Seleb Mendadak Dangdut di ANTV. Dulu pernah ada Akademi Fantasi (AFI) di Indosiar dan Kondang-in di Indoesiar. Namun di antara sekian banyak tayangan-tayangan kontes menyanyi tersebut, ada satu tayangan sejenis yang sangat menarik perhatian saya saat ini, yaitu Mamamia di Indosiar.
Acara yang tidak hanya merupakan ajang adu bakat menyanyi, tapi juga ajang kekompakan antara mama dan putrinya. Sebuah perbedaan yang tidak dimiliki oleh ajang-ajang adu bakat menyanyi yang lainnya. Rangkaian ajang Mamamia diawali dengan audisi yang melibatkan ribuan pasang peserta mama dan putrinya. Para peserta tersebut awalnya disaring sampai terkumpul 75 besar. Dari 75 besar kemudian tersaring lagi sampai 25 besar. Proses penyaringan dilanjutkan
dengan menyaring dari 25 besar hingga kke 10 besar. Proses penyaringan ini ditayangkan secara live di Indosiar pada awal Juni lalu melalui sebuah acara yang bernama "Mamamia Goes Two"
Mamamia Goes Two berlangsung selama lima hari, dari hari Senin hingga Jum'at. Setiap hari ditampilkan lima peserta yang akan diambil dua yang terbaik di antara mereka.
Setelah sepuluh besar pasang peserta terkumpul, lalu panitia memutuskan untuk menambahkan 3 pasang peserta lagi, terambil dari 25 besar yang gagal lolos ke babak 10 besar. Lima belas pasang Mamamia tersebut kemudian diadu lagi dalam sebuah babak yang dinamakan babak playoff, juga ditayangkan di Indosiar.
Lalu akhirnya terkumpullah 13 besar pasang mamamia yang akan mengikuti babak utama "Mamamia Show", tayang setiap Selasa malam pukul 19.00 WIB di Indosiar.
Saat ini Mamamia Show sudah memasuki babak 8 besar. Sudah ada 5 pasang yang terbuang atau istilahnya terksekusi. Mereka adalah Vira, Disti, Sheila, Cinta, dan Anti.
Mamamia Show memang terasa unik buat saya, karena selain mengangkat keakraban antara mama dan putrinya, ajang yang hanya boleh diikuti oleh remaja putri berusia antara 13 - 17 tahun ini juga memiliki sistem penjurian yang berbeda.
Di tengah maraknya sistem penjurian dengan menggunakan SMS dari masyarakat, Mamamia justru berani tampil beda dengan menggunakan 100 juri (istilahnya juri vote lock) yang terambil dari berbagai lapisan masyarakat dan dipastikan tidak ada hubungan kekerabatan dengan peserta.
Penjurian mamamia dilakukan setelah semua kontestan (yang tampil hari itu) bernyanyi.
Mereka harus menyatakan kesukaan atau ketidaksukaan mereka terhadap setiap pasangan yang tampil melalui sebuah tombol yang ada di tempat duduk mereka.
Pada babak Mamamia Goes Two, tugas juri vote lock adalah memilih 2 pasang yang akan maju ke babak selanjutnya. Sementara pada babak playoff, mereka harus memilih satu pasang putri dan mamanya.
Selain dengan juri vote lock, penjurian juga dilakukan dengan melibatkan juri komentator yang disebut eksekutor. Ini hanya terjadi di babak Mamamia Show. Para eksekutor akan memberi komentar pada setiap pasang Mamamia dan di akhir penampilan seluruh peserta, para eksekutor akan memilih 3 pasang peserta untuk masuk ke "zona kritis" dan memilih putri berpenampilan terbaik.
Mereka yang ada di zona kritis akan dipilih (oleh juri vote lock) dua yang terbaik untuk masuk ke babak selanjutnya, dan satu pasang yang harus keluar atau terksekusi.
Para eksekutor, yang terdiri dari empat orang public figure, bertugas untuk memberikan komentar yang berbeda sesuai dengan bidang mereka.
Para eksekutor tersebut terdiri dari
1. Ahmad Dhani (personil DEWA 19), bertugas memberikan komentar tentang vokal masing-masing peserta
2. Arzeti Bilbina (model profesional), bertugas memberikan komentar tentang kostum masing-masing peserta
3. Helmy Yahya (presenter kondang), bertugas untuk memberikan komentar soal manajemen sang mama
4. Sophia Latjuba (pesinetron), bertugas untuk memberikan komentar soal acting masing-masing peserta di panggung
Nah, bagaimana? Setelah anda membaca resensi saya di atas, tertarikkah anda untuk menyaksikannya?
Meskipun gaungnya tidak semeriah Indonesian Idol atau KDI, tapi Mamamia memiliki kualitas yang tidak kalah bergengsinya dengan kedua ajang tersebut.
Jadi pastikan anda menyaksikan Mamamia Show setiap Selasa pukul 19.00 WIB di Indosiar.
Rapublik BBM vs Republik Mimpi
Acara ini menurut saya cukup menghibur, namun masih ada kekurangan-kekurangan yg harus diperbaiki.
Jika dibanding dengan pendahulunya, yaitu Republik BBM, maka acara ini masih kalah elegan.
Pada acara Republik BBM, kehadiran Wapres Ucup Kelik sangat membantu mengangkat pamor acara ini. Kelucuan-kelucuannya selalu dinanti pemirsa setianya.
Sedangkan di acara Republik Mimpi a.k.a News.Com kelucuan-kelucuan seperti di Republik BBM tidak akan nampak. Kelakar-kelakar dari Wapres Jarwo Kwat, yg kerap menggunakan jargon "that's right brother", hanya membuat saya tersenyum (bukan tertawa). Dan kelakar-kelakar itupun terasa sangat membosankan. Saya heran, kenapa masih ada penonton (dalam hal ini mahasiswa) yang tertawa mendengar kelakar semacam itu? Mungkinkah tertawa mereka tidak lepas dari hati nurani yang terdalam? Mungkinkah tertawa mereka itu hanya untuk meramaikan suasana?
Dan yang lebih parah lagi di News.Com, mereka terlalu sering mencampuri urusan luar negeri, yaitu urusan negara tetangga mereka Indonesia.
Lalu apa pekerjaan menteri dalam negeri mereka? Apakah jangan-jangan mereka tidak memiliki menteri dalam negeri?
Lagi, satu hal yang saya kurang suka dari acara ini adalah, teriakan-teriakan "huuuu" dari mahasiswa jika ada suatu opini negatif dilontarkan oleh personil Republik Mimpi. Menurut hemat saya, teriakan "huuu" tidak mencerminkan intelektualitas mahasiswa. Dan menurut formilnya, layakkah teriakan-teriakan tersebut dilontarkan oleh mahasiswa sebagai rakyat Republik Mimpi di depan presiden mereka sendiri? Meskipun yang diteriaki tentu bukan presidennya.
Secara nyata saya sebutkan beberapa perbedaan pada kedua acara ini :
1. Bidang Pembahasan
Republik Mimpi terlalu mengurusi urusan negara tetangganya, Indonesia. Dapat dilihat dari berita-berita yang dibacakan penasehat Efendi Gazali, yaitu berita-berita dari Indonesia. Mereka bahkan pernah keceplosan beberapa kali menyebut negara mereka sebagai negara Indonesia
Sedangkan pada Republik BBM, acara lebih banyak berkutat pada urusan dalam negeri. Rapat kabinet dan pencarian menteri adalah buktinya. Mereka selalu konsisten menyebutkan bahwa negara mereka adalah negara BBM. Jika terjadi kesalahan penyebutan, kesalahan biasanya langsung diralat.
2. Format Acara
Republik BBM selalu menggunakan rapat kabinet. Yang berarti juga, mereka serius mengurusi masalah dalam negeri
Republik Mimpi menggunakan format kantor berita. Dan uniknya berita-berita negara tetanggalah yang selalu dilaporkan.
3. Penggunaan nama-nama negara yang diplesetkan
Di Republik BBM ada beberapa nama negara tetangga yang dipelesetkan, salah satu contohnya yaitu Australia menjadi Aussekali. Penggunaan nama ini lebih memperhalus kritikan-kritikan, sindiran-sindiran kepada negara yang bersangkutan.
Di Republik Mimpi tidak terdapat penggunaan nama negara yang diplesetkan. Sehingga kesannya kritikan-kritikan kepada negara tetangga disampaikan secara lebih frontal, lebih pedas, dan lebih berani.
Persamaan antara Republik Mimpi dan Republik BBM adalah peran Wapres. Di acara Republik BBM, peran Wapres Ucup Kelik adalah mengembalikan suasana yang mulai terlihat serius, agar kembali ke jalurnya yaitu jalur humor. Kemampuan Ucup Kelik sebagai "maestro plesetan" dalam memainkan kata-kata, patut diacungi jempol. Terlihat jelas bagaimana Kelik juga mampu mempermainkan perasaan penonton lewat permainan kata-kata. Awalnya semua orang mendengarkannya serius, namun selalu saja diakhiri oleh gelak tawa lepas. Sebagai contoh, saya masih ingat tentang leluconnya tentang pengangguran. "Saat ini pengangguran tidak hanya didominasi oleh anak muda saja, tapi orang tua juga. Itu contohnya nganggur cap Orang Tua". Penonton yang mendengarnya awalnya terlihat serius dan sedikit mengerenyitkan dahi. Namun setelah mendengar "nganggur cap Orang Tua" tadi, tawa pun meledak ke seantero studio.
Wapres Jarwo Kwat di Republik Mimpi sebenarnya juga punya peran yang sama dengan Ucup Kelik. Namun gaya melucu yang masih kalah dibanding Ucup Kelik membuat perannya ini dibagi ke koleganya, Guru Bangsa Gus Pur. Malah menurut saya peran Gus Pur bisa secara sempurna menggantikan Wapres Jarwo Kwat. News.Com edisi Minggu kemarin (22/7) contohnya. Saya bahkan tidak menyadari jika Wapres saat itu tidak hadir, sebelum saya menyaksikan kembali tayangan ulangnya pada keesokan harinya. Sebab edisi Minggu kemarin, justru lebih lucu dari edisi-edisi sebelumnya.
Meski tulisan saya ini bernada mengkritik, bukan berarti saya tidak menyukai acara Republik Mimpi. Sebab saya melihat ada nilai lebih dari acara ini. Yaitu kehadiran tambahan tokoh-tokoh plesetan seperti Gus Pur, Harun al Jaim, dan juru bicara untuk orang tidak mampu -Isa Marshanda-
Sebenarnya ketika acara Republik Mimpi ini digelar pertama kali, harapan saya adalah penyempurnaan dari Republik BBM. Tapi ternyata apa boleh buat ternyata Republik Mimpi adalah reformasi total dari Republik BBM, bukan penyempurnaan.
Saya hanya bisa berharap suatu hari nanti acara Republik BBM dapat kembali muncul di layar televisi, menyaingi Republik Mimpi.